Rabu, 02 Desember 2015

main dengan sales kartu kredit

Sebut saja namaku Dito, aku seorang pengusaha di bidang automotive di Semarang. Umurku baru 36 tahun, tubuh athletic dan anakku sudah 2. Istriku sebenarnya cantik, tapi yang namanya lelaki tentu saja suka berpetualang. Kebetulan sekali sudah agak lama diriku tidak melakukan adventure.

Petualangan ini dimulai ketika ada telepon dari telemarketing yang menawarkan credit card. Sebenarnya aku sudah memiliki 2 kartu kredit dengan limit yang tidak sedikit dan jarang aku gunakan karena lebih memilih bayar cash. Tapi, sebut saja namanya Ocha, menawarkan padaku dengan suaranya yang serak-serak bokep dan nada manja. Akhirnya aku sepakati agar dia mengambil data-dataku di tempat aku bekerja.

Ternyata si Ocha ini seperti imajinasiku, dia sexy seperti suaranya.. Umurnya mungkin 24-27 dadanya 34B, langsing, rambut sebahu dan pantat yang menonjol padat. Langsung saja aku goda ketika dia ambil data-dataku "Kalo pengajuan saya di approve, saya dapet apa dong?" jawab Ocha " Ntar jalan sama saya deh Pak, sekalian coba kartu kreditnya.." Jawabnya genit.. Ternyata dia gatel juga
Wah pikirku...sekalian gesek mekinya...hehehe..udah ngelamun jorok..
Dan 1 Minggu kemudian aku ditelpon oleh Ocha yang menyatakan bahwa pengajuan kartu kreditku diterima, aku jawab " Masih berlaku gak tawaran jalan-jalanya?" Dan dia jawab "masih dong, kebetulan Ocha mau beli tas nih Pak..sekalian coba kartu bapak ya.."
Setelah menentukan waktu dan hari nya , kami berjalan-jalan di mall Paragon untuk membeli Tas *ternyata dia pilih yang harganya 550 rb* Dia memakai setelan blazer dan rok se lutut, mungkin baru pulang kerja..lalu aku ajak dia makan di sebuah resto di luar mall yang agak sepi.

Di Resto ini kami saling bercerita, ternyata dia sudah punya suami, tapi suaminya tugas di tambang Minyak lepas pantai, sehingga pulangnya 6 bulan sekali. Ocha belum memiliki anak dan tinggal sendiri tanpa pembantu di rumahnya di daerah Bukit Kencana Jaya. Hari-harinya dia isi dengan pergi ka mall dan spa untuk menghabiskan waktu katanya.
Setelah agak akrab aku memeberanikan diri untuk membelai rambutnya, ternyata dia tidak menolak.. Lalu kucium lembut pipinya...dia juga tidak menolak..dan yang bikin saya kaget, dia malah mencium bibir saya dan mengulumnya...*untung aja restorannya sepi dan model bungalow lesehan gitu*

Aku langsung berekasi dan membalas pagutan-pagutan lidahnya...dia mendesah desah.."mmmhhh...mmhh" kemudian tangan kirinya memegang senjata ku dari luar celanaku, diurut-urut..."ooohhh" kataku, "enak Ocha".

"Besar juga punya bapak", tanganku juga tidak kalah sigap. Langsung kuelus pahanya dan naik ke bagian pangkal pahanya...dan sodara-sodara, cd nya sudah basah!! "Sudah pingin ya?"kataku.. "iya, lama aku gak ketemu yang kaya gini pak" sambil terus mengurut-urut kontolku. langsung aja aku bayar taguhan resto dan masuk mobil dan kami sepakat untuk melanjutkan di rumahnya, karena rumahku tidak memungkinkan. Sepanjang perjalanan, dia terus mengurut kontolku sambil meremas2 susunya sendiri. Untung aja perjalanan tidak sampai 15 menit. Begitu masuk rumah, dia langsung memelukku sambil melepas ikat pinggangku. Aku juga tdk tinggal diam, kulepas roknya, blazernya sehingga tinggal Bra dan CD aja. Ternyata dia sexy sekali, ada tatto kecil di pantat kanannya.

kami berpelukan dengan berpakaian dalam saja...kuelus mekinya dari luar cd sambil kukenyot dadanya yang ternyata putingnya berwarna merah jambu. dia sibuk mendesah2 dan tampaknya tidak sabar untuk memasukkan batangku. Tiba-tiba dia mendorongku, lalu menindihku, lalu CD nya dipelorotkannya dan langsung memasukkan burungku tanpa aba-aba..

Bless..sedikit sakit, karena mekinjya masih lumayan rapat.. Kontolku pun ditelan mekinya...Ocha bergerak dengan liar dlam posisi woman on top, tampaknya dia memang sudah kangen di*****...baru bergoyang sedikit dia tiba-tiba mendesah panjang dan lemas.."ohhh, nikmat kontolmu Pak".. "Lho, saya belum apa-apa jeng Ocha"kataku..
Lalu dia berganti posisi nungging, "masukin lagi aja Pak, bapak yg genjot ya..."
Langsung aja kumasukkan Konti ku ke mekinya yang jadi semakin merekah dalam posisi ini, sungguh pemandangan menakjubkan... Ternyata dia masih goyang juga maju mundur kiri kanan, selang beberapa menit Ocha berguncang lagi.."Paaaakkk,,,,enaaakkkk.....ahhhhhh" kali ini tidak kulepas kontolku dan tetep aku genjot sampe akhirnya CROOOTTTTTT.....kulepas di dlam meki nya... "Wah enak pak, peju nya hangat" kata Ocha.

Kemudian kami beirstirahat sambil mengobrol lagi lalu aku pulang ke rumah.
Kami sering bertemu sejak saat itu dan sering beradu selangkangan sampai akhirnya suaminya pulang tugas dan aku ga bisa menghubunginya lagi...

Main sama agen asuransi

Pulang kantor jalanan masih agak macet. Kantorku berada di daerah Harmoni. Pada jam-jam sibuk tentu saja macet total. Langit agak mendung, tapi dugaanku sore sampai malam ini tidak akan turun hujan. Dengan langkah sedang aku keluar kantor dan berjalan ke arah Juanda, rencana naik bis dari sana saja. Maklum karyawan baru, jadi masih naik Mercy dengan kapasitas besar. Sampai di Juanda aku cari bis kota tujuan ke Senen. Sebentar kemudian datang bis kota yang sudah miring ke kiri. Aku naik dan menyelinap ke dalam.
Aroma di dalam bis sungguh rruarr biasa. Segala macam aroma ada di sana. Mulai dari perfume campur keringat sampai bau asap dan lain-lainnya. Tak lama aku sampai di Senen. Turun di Pasar Senen dan masuk ke dalamnya. Ada beberapa barang yang harus kucari. Putar sana putar sini nggak ketemu juga yang kucari. Malahan digodain sama kapster-kapster di salon lantai 2. Dengan kata-kata yang menjurus mereka merayuku untuk masuk ke salonnya. Kubalas saja godaan mereka, toh aku juga lagi nggak ada keperluan ke salon. Sekedar membalas dan menyenangkan mereka yang merayu untuk sekedar gunting, facial atau creambath. Akhirnya kuputuskan untuk cari di Atrium saja. Aku nyeberang di dekat jembatan layang. Memang budaya tertib sangat kurang di negara ini. Senangnya potong kompas dengan mengambil resiko. Baru saja kakiku melangkah masuk ke dalam Atrium, mataku tertuju pada seorang wanita setengah baya, kutaksir umurnya tiga puluh lima tahun. Ia mengenakan blazer hijau dengan blouse hitam. Pandangannya kesana kemari dan gelisah seolah-olah menunggu seseorang. Aku lewat saja di depannya tanpa ada suatu kesan khusus. Sampai di depannya dia menyapaku. “Maaf Mas mengganggu sebentar. Jam berapa sekarang?” tanyanya halus. Dari logatnya kutebak dia orang Jawa Tengah, sekitar Solo. “Aduh, sorry juga Mbak, saya juga tidak pakai jam,” sambil kulihatkan pergelangan tanganku.”Mbak mau kemana, kok kelihatannya gelisah?” tanyaku lagi. “Lagi tunggu teman, janjian jam setengah lima kok sampai sekarang belum muncul juga” jawabnya. “Ooo..” komentarku sekedar menunjukkan sedikit perhatian. “Mas mau kemana, baru pulang kantor nih?” dia balik bertanya. “Iya, mau beli sesuatu, tadi cari di Proyek nggak ada, kali-kali aja ada di Atrium”. Akhirnya meluncurlah dari mulut kami beberapa pertanyaan basa-basi standar. “Oh ya dari tadi kita bicara tapi belum tahu namanya, saya Vera,” katanya sambil mengulurkan tangan. “Anto,” sahutku pendek, “OK Vera, saya mau jalan dulu cari barang yang saya perlukan”. “Silakan, saya masih tunggu teman di sini, barangkali dia terjebak macet atau ada halangan lainnya”. Kami berpisah, saya masuk ke dalam dan langsung ke Gunung Agung. Kulihat Vera masih menunggu di pintu Atrium. Setengah jam keliling Gunung Agung ternyata tidak ada barang yang kucari. Kuputuskan pulang saja, besok coba cari di Gramedia atau Maruzen. Aku keluar dari pintu yang sama waktu masuk, arah ke Proyek. Kulihat Vera masih juga berdiri di sana. Kuhampiri dia dan kutanya. “Masih ada disini, belum pulang?”. “Ini mau pulang, besok aja kutelpon dia ke kantor,” jawabnya. Waktu itu, 1994, HP masih menjadi barang mewah yang tidak setiap orang dapat memilikinya. “Mbak naik apa?” “Oh, saya bawa mobil sendiri, meskipun butut”. “OK, kalau begitu saya pulang, saya naik Mercy besar ke Kampung Melayu”. Dia kelihatan agak berpikir. Baru pada saat ini aku mengamati dia dengan lebih teliti. Tingginya kutaksir 158 cm, kulitnya kuning kecoklatan, khas wanita Jawa dengan perawakan seimbang. Rambutnya berombak sebahu, matanya agak lebar dan dadanya standar, 34. “Kenapa, something wrong?” kataku. “Nggak, nggak aku juga mau jalan lagi suntuk. Rumah saya di Cinere, jam segini juga lagi full macet” sambil memandangku dengan tatapan yang sulit kutafsirkan. “Boleh saya temani,” sahutku asal saja. Jujur aku hanya asal berkata saja tanpa mengharap apapun. Dia menatapku sejenak dan akhirnya.. “Boleh saja, kalau nggak mengganggu” jawabnya. Kami menuju basement tempat parkir mobilnya. Dia memberikan kunci mobilnya padaku. “Bisa bawa mobil kan?” tanyanya. Aku terkejut, karena aku memang bisa nyetir mobil tapi masih belum lancar sekali dan tidak punyai SIM. “Aduh, so.. Sorry, jangan aku yang bawa. Aku nggak punya SIM,” kataku mengelak. “Baiklah kalau begitu, biar aku sendiri yang bawa,” katanya sambil tersenyum. Vera naik mobil dan membukakan pintu sebelah kiri depan dari dalam. Mobilnya Suzuki Carry warna merah maron. Kulihat di atas jok tengah berserakan map dan kertas. “Kemana kita?” katanya. “Terserah ibu sopir saja, asal jangan ke Bogor, jauh” sahutku bercanda. “Kita ke Monas saja deh” katanya sambil terus tetap menyetir. Karena dia mengenakan rok span selutut, jadinya waktu duduk menyetir agak ketarik ke atas, pahanya terlihat sedikit. Aku menelan ludah. Monas terlihat sepi sore ini, jam di dashboard menunjukkan 17.55. Hanya ada beberapa mobil yang parkir di pelataran parkir. Vera memarkir mobilnya agak jauh dari mobil lainnya. Ia mematikan kontak dan membuka jendela. Kami tetap duduk di dalam mobil. “Uffh, hari yang melelahkan”. Vera menyandarkan tubuh dan kepalanya pada jok mobil. Blazernya tidak dikancingkan sehingga dadanya kelihatan menonjol. “Ngomong-ngomong Mas Anto ini kerja di mana?” “Karyawan swasta, kantornya di Harmoni, Mbak Vera sendiri di mana?” balasku. “Saya agen sebuah Asuransi BUMN, rencananya tadi dengan teman saya, Dewi, akan prospek di sebuah kantor di Kramat, makanya janjian di Atrium. Eh, dianya nggak datang. Eh, bagaimana kalau kita masing-masing panggil dengan nama saja tanpa sebutan basa- basi supaya lebih akrab. Toh umur kita nggak jauh berbeda. Aku tiga puluh lima, kutaksir kamu paling-paling tiga puluh”. Ternyata taksiranku tepat, taksirannya meleset. Waktu itu umurku sendiri baru dua puluh lima. Mungkin karena warna kulitku agak gelap dan berkumis maka wajahku kelihatan lebih tua. Tapi menurut teman-temanku baik perempuan ataupun laki-laki, dengan wajah cukup ganteng, tinggi 170 cm, perawakan tegap, berkumis dan dada berbulu aku termasuk idaman wanita. Vera ternyata seorang janda dengan satu anak. Ketika kutanya kenapa dia bercerai, air mukanya berubah dan ia menghela napas panjang. “Sudahlah, itu kenangan buruk dari masa laluku, tak usah dibicarakan lagi” katanya. “Baiklah, maaf kalau sudah menyinggung perasaanmu,” kataku. Senja semakin merambat, lampu jalan sudah mulai dinyalakan mengalahkan temaram senja. Di bawah lampu merkuri wajah Vera terlihat pucat. Tiba-tiba saja kami bertatapan. Vera terlihat sangat lelah, tapi bibirnya dipaksakan tersenyum. Entah bagaimana mulanya tiba-tiba saja tangan kananku sudah kulingkarkan di lehernya dan kurengkuh ia ke dalam pelukanku. Kucium bibir tipisnya dan ia membalasnya dengan melumat bibirku lembut. Kami saling memandang dan tersenyum. “Anto, maukah kamu menemaniku ngobrol?” “Lho, bukankah sekarang ini kita lagi ngobrol”. “Maksudku, kita cari.. Nggh.. Tempat yang tenang”. Kucium bibirnya lagi dan ia membalas lebih panas dari ciuman yang pertama tadi. Tanpa kujawab mestinya ia sudah tahu. “Ayo kita berangkat,” ajaknya sambil menghidupkan mesin mobil. “Baiklah kita ke arah Tanah Abang saja yuk,” jawabku. Dari Monas kami menuju ke Tanah Abang. Kami sempat terjebak kemacetan di sekitar Stasiun Tanah Abang. Akhirnya kuarahkan dia ke Petamburan. Kulihat dia ragu-ragu untuk masuk ke halaman sebuah hotel. “Ayolah masuk saja, nggak apa-apa kok. Hotelnya cukup bersih dan murah” kataku meyakinkannya. “Bukan apa-apa. Aku hanya tidak ingin mobilku terlihat secara mencolok di halaman hotel” sahutnya. Akhirnya kami mendapatkan tempat parkir yang cukup terlindung dari jalan umum. Setelah membereskan urusan di front office, kami masuk ke dalam kamar. Kuamati sejenak keadaan di dalam kamar. Di dinding sejajar dengan arah ranjang dipasang cermin selebar 80 cm memanjang sepanjang dinding. Aku tersenyum dan membatin rupanya hotel ini memang dipersiapkan khusus untuk pasangan yang mau kencan. “Kamu sering masuk ke sini, To? Kelihatannya sudah familiar sekali” tanyanya. “Nggak juga. Namanya nginap di hotel kan tahapannya standar aja. Lapor ke front office, serahkan ID, bayar bill untuk semalam lalu ambil kunci kamar. Beres kan?” “Kalau lagi prospek, bagaimana pengalamanmu. Sering dijahili klien nggak” tanyaku memancing. “Yahh, ada juga yang iseng. Tapi kalau orangnya oke, boleh juga sih. Sudah dapat komisi plus tip plus enak gila”. Ternyata beginilah salah satu sisi dunia asuransi. Saya nggak menghakimi, tetapi semua itu kembali tergantung pada orangnya. “Aduh, kalau begitu saya nggak bisa kasih tip. Kita pulang saja yuk” kataku pura-pura serius. “Huussh.. Kamu kok nganggap saya begitu sih”. Kami berbaring berjejer di ranjang yang empuk. Vera tengkurap di sebelahku dan menatapku sejenak, lalu ia mendekatkan mukanya ke mukaku dan mencium bibirku. Aku membalas dengan perlahan. Vera terus menciumiku sambil melepas blazernya. Kaki kirinya membelit kakiku. Tangannya merayap di atas kemejaku dan mulai melepas kancing serta menariknya sehingga dadaku terbuka. Vera semakin terangsang melihat dadaku yang berbulu. Ia membelai-belai dadaku dan sekali-sekali menarik perlahan bulu dadaku. “Simbarmu iku lho To, bikin aku.. Serr” bisiknya. Simbar adalah sebutan bulu dada dalam bahasa Jawa. “Mandi dulu yuk” kataku. “Nggak usah, nanti aja. Bau tubuhmu lebih merangsang daripada bau sabun bahkan parfum” katanya. Bibirnya bergeser ke bawah dan kini ia menciumi leherku. Aku menggelinjang kegelian sekaligus nikmat. Napas kami mulai berat dan memburu. Sambil terus menciumi dadaku, Vera melepaskan blousenya. Kulihat buah dadanya yang masih kenyal dan padat terbungkus bra warna merah jambu. Seksi sekali. Tangannya bergerak ke bawah, membuka kepala ikat pinggangku, melepas kancing celana dan menarik ritsluitingku dan langsung menariknya ke bawah. Aku sedikit mengangkat pantatku membantu gerakan tangannya membuka celanaku. Kini tangannya bergerak ke belakangnya, tidak lama kemudian roknya sudah merosot dan hanya dengan gerakan kakinya rok tersebut sudah terlepas dan terlempar ke lantai. Tangan kananku bergerak ke punggungnya dan terdengar suara “tikk” kancing pengait branya sudah terlepas. Aku melepas branya dengan sangat perlahan sambil mengusap-usap bahu dan lengannya. Vera mengangkat tangannya dari tubuhku dan akhirnya terlepaslah bra merah jambu yang dipakainya. Buah dadanya berukuran sedang, taksiranku 34 saja, terlihat kenyal dan padat. Urat-uratnya yang membiru di bawah kulit terlihat sangat menarik seperti alur sungai di pegunungan. Putingnya yang merah kecoklatan menantangku untuk segera mengulumnya. Payudara sebelah kanan kuisap dan kukulum, sementara sebelah kirinya kuremas dengan tangan kananku, demikian berganti-ganti. Tangan kiriku mengusap-usap punggungnya dengan lembut. Vera mengerang dan merintih ketika putingnya kugigit kecil dan kujilat-jilat. “Ououououhh.. Nghgghh, Anto teruskan.. Ouuhh.. Anto” Payudaranya kukulum habis sampai ke pangkalnya. Vera menghentakkan kepalanya dan menjilati telingaku. Akupun sudah merangsang hebat. Senjataku sudah mengeras dan kepalanya sudah nongol di balik celana dalamku. Vera melepaskan diri dari pelukanku dan kini ia yang aktif menjilati dan menciumi tubuhku bagian atas. Dari leher bibirnya menyusuri dadaku, menjilati bulu dadaku dan.. “Oukhh, Vera.. Yachh.” aku mengerang ketika mulutnya menjilati puting kiriku. Kini bibirnya pindah ke puting kananku. Aku mendorong tubuhnya, tak tahan dengan rangsangan pada puting kananku. Vera semakin ke bawah, ke perut dan terus ke bawah. Digigitnya meriamku yang masih terbungkus celana dalam. Tangannya juga bergerak ke bawah, menarik celanaku sampai ke lutut dan akhirnya menariknya ke bawah dengan kakinya. Aku tinggal memakai kemeja saja yang kancingnya juga terbuka semua.

nyobain ml pegawai bank

Awalnya aku tak terlalu tertarik dengan pasangan suami-istri muda yang baru tinggal di samping rumahku itu. Suaminya yang bernama Bram, berusia sekitar 32 tahun, merupakan seorang pria dengan wajah tirus dan dingin. Sangat mahal senyum. Sedang istrinya, seorang wanita 23 tahun, bertubuh sintal yang memiliki sepasang mata membola cantik, raut wajah khas wanita Jawa. Tak beda jauh dengan suaminya, dia juga terlihat kaku dan tertutup. Tapi watak itu, agaknya lebih disebabkan oleh sikap pendiam dan pemalunya. Sehari-harinya, dia selalu mengenakan pakaian kebaya. Latar belakang kehidupan pedesaan wanita berambut ikal panjang ini, terlihat masih cukup kental, Jakarta tak membuatnya berubah. Aku hanya sempat bicara dan bertemu lebih dekat dengan pasangan ini, dihari pertama mereka pindah. Saat mengangkat barang-barangnya, aku kebetulan baru pulang dari jogging dan lewat di depan pintu pagar halaman rumah yang mereka kontrak. Setelah itu, aku tak pernah lagi contact dengan keduanya. Aku juga tak merasa perlu untuk mengurusi mereka.

Perasaan dan pikiranku mulai berubah, khususnya terhadap si Istri yang bernama Maryati, ketika suatu pagi bangun dari tidur aku duduk di balik jendela. Dari arah sana, secara kebetulan, juga melalui jendela kamarnya, aku menyaksikan si Istri sedang melayani suaminya dengan sangat telaten dan penuh kasih. Mulai menemani makan, mengenakan pakaian, memasang kaos kaki, sepatu, membetulkan letak baju, sampai ketika mencium suaminya yang sedang bersiap-siap untuk turun kerja, semua itu kusaksikan dengan jelas. Aku punya kesimpulan wanita lumayan cantik itu sangat mencintai pasangan hidupnya yang berwajah dingin tersebut.

Entah mengapa, tiba-tiba saja muncul pertanyaan nakal di otakku. Apakah Istri seperti itu memang memiliki kesetiaan yang benar-benar tulus dan jauh dari pikiran macam-macam terhadap suaminya? Sebutlah misalnya berhayal pada suatu ketika bisa melakukan petualangan seksual dengan lelaki lain? Apakah seorang istri seperti itu mampu bertahan dari godaan seks yang kuat, jika pada suatu ketika, dia terposisikan secara paksa kepada suatu kondisi yang memungkinkannya bermain seks dengan pria lain? Apakah dalam situasi seperti itu, dia akan melawan, menolak secara total meski keselamatannya terancam? Atau apakah dia justru melihatnya sebagai peluang untuk dimanfaatkan, dengan dalih ketidakberdayaan karena berada dibawah ancaman? Pertanyaan-pertanyaan itu, secara kuat menyelimuti otak dudaku yang memang kotor dan suka berhayal tentang penyimpangan seksual. Sekaligus juga akhirnya melahirkan sebuah rencana biadab, yang jelas sarat dengan resiko dosa dan hukum yang berat. Aku ingin memperkosa Maryati! Wuah! Tapi itulah memang tekad yang terbangun kuat di otak binatangku.

Sesuatu yang membuatmu mulai hari itu, secara diam-diam melakukan pengamatan dan penelitian intensif terhadap pasangan suami istri muda tersebut. Kuamati, kapan keduanya mulai bangun, mulai tidur, makan dan bercengkrama. Kapan saja si Suami bepergian ke luar kota lebih dari satu malam, karena tugas perusahaannya sebuah distributor peralatan elektronik yang cukup besar. Dengan kata lain, kapan Maryati, wanita dengan sepasang buah dada dan pinggul yang montok sintal itu tidur sendirian di rumahnya.

Untuk diketahui, pasangan ini tidak punya pembantu. Saat itulah yang bakal kupilih untuk momentum memperkosanya. Menikmati bangun dan lekuk-lekuk tubuhnya yang memancing gairah, sambil menguji daya tahan kesetiaannya sebagai istri yang bisa kukategorikan lumayan setia. Sebab setiap suaminya bepergian atau sedang keluar, wanita ini hanya mengunci diri di dalam rumahnya. Selama ini bahkan dia tak pernah kulihat meski hanya untuk duduk-duduk di terasnya yang besar. Itu ciri Ibu Rumah Tangga yang konservatif dan kukuh memegang tradisi sopan-santun budaya wanita timur yang sangat menghormati suami. Meski mungkin mereka sadar, seorang suami, yang terkesan sesetia apapun, jika punya peluang dan kesempatan untuk bermain gila, mudah terjebak ke sana. Aku tahu suaminya, si Bram selalu bepergian keluar kota satu atau dua malam, setiap hari Rabu. Apakah benar-benar untuk keperluan kantornya, atau bisa jadi menyambangi wanita simpanannya yang lain. Dan itu bukan urusanku. Yang penting, pada Rabu malam itulah aku akan melaksanakan aksi biadabku yang mendebarkan.

Semua tahapan tindakan yang akan kulakukan terhadap wanita yang di mataku semakin menggairahkan itu, kususun dengan cermat. Aku akan menyelinap ke rumahnya hanya dengan mengenakan celana training minus celana dalam, serta baju kaos ketat yang mengukir bentuk tubuh bidangku. Buat Anda ketahui, aku pria macho dengan penampilan menarik yang gampang memaksa wanita yang berpapasan denganku biasanya melirik. Momen yang kupilih, adalah pada saat Maryati akan tidur. Karena berdasarka hasil pengamatanku, hanya pada saat itu, dia tidak berkebaya, cuma mengenakan daster tipis yang (mungkin) tanpa kutang. Aku tak terlalu pasti soal ini, karena cuma bisa menyaksikannya sekelebat saja lewat cara mengintip dari balik kaca jendelanya dua hari lalu. Kalau Maryati cuma berdaster, berarti aku tak perlu disibukkan untuk melepaskan stagen, baju, kutang serta kain yang membalut tubuhnya kalau lagi berkebaya. Sedang mengapa aku cuma mengenakan training spack tanpa celana dalam, tahu sendirilah.

Aku menyelinap masuk ke dalam rumahnya lewat pintu dapur yang terbuka petang itu. Saat Maryati pergi mengambil jemuran di kebun belakangnya, aku cepat bersembunyi di balik tumpukan karton kemasan barang-barag elektronik yang terdapat di sudut ruangan dapurnya. Dari sana, dengan sabar dan terus berusaha untuk mengendalikan diri, wanita itu kuamati sebelum dia masuk ke kamar tidurnya. Dengan mengenakan daster tipis dan ternyata benar tanpa kutang kecuali celana dalam di baliknya. Si Istri Setia itu memeriksa kunci-kunci jendela dan pintu rumahnya. Dari dalam kamarnya terdengar suara acara televisi cukup nyaring. Nah, pada saat dia akan masuk ke kamar tidurnya itulah, aku segera memasuki tahapan berikut dari strategi memperkosa wanita bertubuh sintal ini. Dia kusergap dari belakang, sebelah tanganku menutup mulutnya, sedang tangan yang lain secara kuat mengunci kedua tangannya. Maryati terlihat tersentak dengan mata terbeliak lebar karena terkejut sekaligus panik dan ketakutan. Dia berusaha meronta dengan keras. Tapi seperti adegan biasa di film-film yang memperagakan ulah para bajingan, aku cepat mengingatkannya untuk tetap diam dan tidak bertindak bodoh melakukan perlawanan. Hanya bedanya, aku juga mengutarakan permintaan maaf.

“Maafkan saya Mbak. Saya tidak tahan untuk tidak memeluk Mbak. Percayalah, saya tidak akan menyakiti Mbak. Dan saya bersumpah hanya melakukan ini sekali. Sekali saja,” bisikku membujuk dengan nafas memburu akibat nafsu dan rasa tegang luar biasa. Maryati tetap tidak peduli. Dia berusaha mengamuk, menendang-nendang saat kakiku menutup pintu kamarnya dan tubuhnya kepepetkan ke dinding. “Kalau Mbak ribut, akan ketahuaan orang. Kita berdua bisa hancur karena malu dan aib. Semua ini tidak akan diketahui orang lain. Saya bersumpah merahasiakannya sampai mati, karena saya tidak mau diketahui orang lain sebagai pemerkosa,” bisikku lagi dengan tetap mengunci seluruh gerakan tubuhnya.

Tahapan selanjutnya, adalah menciumi bagian leher belakang dan telinga wanita beraroma tubuh harum merangsang itu. Sedang senjataku yang keras, tegang, perkasa dan penuh urat-urat besar, kutekankan secara keras ke belahan pantatnya dengan gerakan memutar, membuat Maryati semakin terjepit di dinding. Dia mencoba semakin kalap melawan dan meronta, namun apalah artinya tenaga seorang wanita, di hadapan pria kekar yang sedang dikuasai nafsu binatang seperti diriku.

Aksi menciumi dan menekan pantat Maryati terus kulakukan sampai lebih kurang sepuluh menit. Setelah melihat ada peluang lebih baik, dengan gerakan secepat kilat, dasternya kusingkapkan. Celana dalamnya segera kutarik sampai sobek ke bawah, dan sebelum wanita ini tahu apa yang akan kulakukan, belahan pantatnya segera kubuka dan lubang anusnya kujilati secara buas. Maryati terpekik. Sebelah tanganku dengan gesit kemudian menyelinap masuk diantara selangkangannya dari belakang dan meraba serta meremas bagian luar kemaluannya, tapi membiarkan bagian dalamnya tak terjamah. Strategiku mengingatkan belum waktunya sampai ke sana. Aksi menjilat dan meremas serta mengusap-usap ini kulakukan selama beberapa menit. Maryati terus berusaha melepaskan diri sambil memintaku menghentikan tindakan yang disebutnya jahanam itu. Dia berulang-ulang menyebutku binatang dan bajingan. Tak soal. Aku memang sudah jadi binatang bajingan. Dan sekarang sang bajingan sudah tanpa celana, telanjang sebagian.

“Akan kulaporkan ke suamiku,” ancamnya kemudian dengan nafas terengah-engah. Aku tak menyahut sambil bangkit berdiri serta menciumi pundaknya. Lalu menempelkan batang perkasaku yang besar, tegang dan panas diantara belahan pantatnya. Menekan dan memutar-mutarnya dengan kuat di sana. Sedang kedua tanganku menyusup ke depan, meraba, meremas dan memainkan puting buah dada besar serta montok wanita yang terus berjuang untuk meloloskan diri dari bencana itu.

“Tolong Mas Dartam, lepaskan aku. Kasihani aku,” ratapnya. Aku segera menciumi leher dan belakang telinganya sambil berbisik untuk membujuk, sekaligus memprovokasi. “Kita akan sama-sama mendapat kepuasan Mbak. Tidak ada yang rugi, karena juga tidak akan ada yang tahu. Suamimu sedang keluar kota. Mungkin juga dia sedang bergulat dengan wanita lain. Apakah kau percaya dia setia seperti dirimu,” bujukku mesra. “Kau bajingan terkutuk,” pekiknya dengan marah. Sebagai jawabannya, tubuh putih yang montok dan harum itu (ciri yang sangat kusenangi) kali ini kupeluk kuat-kuat, lalu kuseret ke atas ranjang dan menjatuhnya di sana. Kemudian kubalik, kedua tangannya kurentangkan ke atas. Selanjutnya, ketiak yang berbulu halus dan basah oleh keringat milik wanita itu, mulai kuciumi. Dari sana, ciumanku meluncur ke sepasang buah dadanya. Menjilat, menggigit-gigit kecil, serta menyedot putingnya yang terasa mengeras tegang.

“Jangan Mas Darta. Jangan.. Tolong lepaskan aku.” Wanita itu menggeliat-geliat keras. Masih tetap berusaha untuk melepaskan diri. Tetapi aku terus bertindak semakin jauh. Kali ini yang menjadi sasaranku adalah perutnya. Kujilat habis, sebelum pelan-pelan merosot turun lebih ke bawah lalu berputar-putar di bukit kemaluannya yang ternyata menggunung tinggi, mirip roti. Sementara tanganku meremas dan mempermainkan buah dadanya, kedua batang paha putih dan mulusnya yang menjepit rapat, berusaha kubuka. Maryati dengan kalap berusaha bangun dan mendorong kepalaku. Kakinya menendang-nendang kasar. Aku cepat menjinakkannya, sebelum kaki dan dengkul yang liar itu secara telak membentur dua biji kejantannanku. Bisa celaka jika itu terjadi. Kalau aku semaput, wanita ini pasti lolos.

Setelah berjuang cukup keras, kedua paha Maryati akhirnya berhasil kukuakkan. Kemudian dengan keahlian melakukan cunnilingus yang kumiliki dari hasil belajar, berteori dan berpraktek selama ini, lubang dan bibir kelamin wanita itu mulai menjadi sasaran lidah dan bibirku. Tanpa sadar Maryati terpekik, saat kecupan dan permainan ujung lidahku menempel kuat di klitorisnya yang mengeras tegang. Kulakukan berbagai sapuan dan dorongan lidah ke bagian-bagian sangat sensitif di dalam liang senggamanya, sambil tanganku terus mengusap, meremas dan memijit-mijit kedua buah dadanya. Maryati menggeliat, terguncang dan tergetar, kadang menggigil, menahan dampak dari semua aksi itu. Kepalanya digeleng-gelengkan secara keras. Entah pernyataan menolak, atau apa. Sambil melakukan hal itu, mataku berusaha memperhatikan permukaan perut Si Istri Setia ini. Dari sana aku bisa mempelajari reaksi otot-otot tubuhnya, terhadap gerakan lidahku yang terus menyeruak masuk dalam ke dalam liang senggamanya. Dengan sentakan-sentakan dan gelombang di bagian atas perut itu, aku akan tahu, di titik dan bagian mana Maryati akan merasa lebih terangsang dan nikmat.

Gelombang rangsangan yang kuat itu kusadari mulai melanda Maryati secara fisik dan emosi, ketika perlawanannya melemah dan kaki serta kepalanya bergerak semakin resah. Tak ada suara yang keluar, karena wanita ini menutup bahkan menggigit bibirnya. Geliat tubuhnya bukan lagi refleksi dari penolakan, tetapi (mungkin) gambaran dari seseorang yang mati-matian sedang menahan kenikmatan. Berulang kali kurasakan kedua pahanya bergetar. Kemaluannya banjir membasah. Ternyata benar analisa otak kotorku beberapa pekan lalu. Bahwa sesetia apapun seorang Istri, ada saat di mana benteng kesetiaan itu ambruk, oleh rangsangan seksual yang dilakukan dalam tempo relatif lama secara paksa, langsung, intensif serta tersembunyi oleh seorang pria ganteng yang ahli dalam masalah seks. Maryati telah menjadi contoh dari hal itu. Mungkin juga ketidakberdayaan yang telah membuatnya memilih untuk pasrah. Tetapi rasanya aku yakin lebih oleh gelora nafsu yang bangkit ingin mencari pelampiasan akibat rangsangan yang kulakukan secara intensif dan ahli di seluruh bagian sensitif tubuhnya.

Aksiku selanjutnya adalah dengan memutar tubuh, berada di atas Maryati, memposisikan batang kejantananku tepat di atas wajah wanita yang sudah mulai membara dibakar nafsu birahi itu. Aku ingin mengetahui, apa reaksinya jika terus kurangsang dengan batang perkasaku yang besar dan hangat tepat berada di depan mulutnya. Wajahku sendiri, masih berada diantara selangkangannyadengan lidah dan bibir terus menjilat serta menghisap klitoris dan liang kewanitaannya.

Paha Maryati sendiri, entah secara sadar atau tidak, semakin membuka lebar, sehingga memberikan kemudahan bagiku untuk menikmati kelaminnya yang sudah membanjir basah. Mulutnya berulangkali melontarkan jeritan kecil tertahan yang bercampur dengan desisan. Aksi itu kulakukan dengan intensif dan penuh nafsu, sehingga berulang kali kurasakan paha serta tubuh wanita cantik itu bergetar dan berkelojotan.

Beberapa menit kemudian mendadak kurasa sebuah benda basah yang panas menyapu batang kejantananku, membuatku jadi agak tersentak. Aha, apalagi itu kalau bukan lidah si Istri Setia ini. Berarti, selesailah sudah seluruh perlawanan yang dibangunnya demikian gigih dan habis-habisan tadi. Wanita ini telah menyerah. Namun sayang, jilatan yang dilakukannya tadi tidak diulanginya, meski batang kejantananku sudah kurendahkan sedemikian rupa, sehingga memungkinkan mulutnya untuk menelan bagian kepalanya yang sudah sangat keras, besar dan panas itu. Boleh jadi wanita ini merasa dia telah menghianati suaminya jika melakukan hal itu, menghisap batang kejantanan pria yang memperkosanya! Tak apa. Yang penting sekarang, aku tahu dia sudah menyerah. Aku cepat kembali membalikkan tubuh. Memposisikan batang kejantananku tepat di depan bukit kewanitaannya yang sudah merekah dan basah oleh cairan dan air ludahku. Aku mulai menciumi pipinya yang basah oleh air mata dan lehernya. Kemudian kedua belah ketiaknya. Maryati menggelinjang liar sambil membuang wajahnya ke samping. Tak ingin bertatapan denganku. Buah dadanya kujilati dengan buas, kemudian berusaha kumasukan sedalam-dalamnya ke dalam mulutku. Tubuh Maryati mengejang menahan nikmat. Tindakan itu kupertahankan selama beberapa menit. Kemudian batang kejantananku semakin kudekatkan ke bibir kemaluannya.

Ah.., wanita ini agaknya sudah mulai tidak sabar menerima batang panas yang besar dan akan memenuhi seluruh liang sanggamanya itu. Karena kurasa pahanya membentang semakin lebar, sementara pinggulnya agak diangkat membuat lubang sanggamanya semakin menganga merah. “Mbak Mar sangat cantik dan merangsang sekali. Hanya lelaki yang beruntung dapat menikmati tubuhmu yang luar biasa ini,” gombalku sambil menciumi pipi dan lehernya. “Sekarang punyaku akan memasuki punya Mbak. Aku akan memberikan kenikmatan yang luar biasa pada Mbak. Sekarang nikmatilah dan kenanglah peristiwa ini sepanjang hidup Mbak.” Setelah mengatakan hal itu, sambil menarik otot di sekitar anus dan pahaku agar ketegangan kelaminku semakin meningkat tinggi, liang kenikmatanwanita desa yang bermata bulat jelita itu, mulai kuterobos. Maryati terpekik, tubuhnya menggeliat, tapi kutahan. Batang kejantananku terus merasuk semakin dalam dan dalam, sampai akhirnya tenggelam penuh di atas bukit kelamin yang montok berbulu itu.

Untuk sesaat, tubuhku juga ikut bergetar menahan kenikmatan luar biasa pada saat liang kewanitaan wanita ini berdenyut-deyut menjepitnya. Tubuhku kudorongkan ke depan, dengan pantat semakin ditekan ke bawah, membuat pangkal atas batang kejantananku menempel dengan kuat di klitorisnya. Maryati melenguh gelisah. Tangannya tanpa sadar memeluk tubuhku dengan punggung melengkung. Kudiamkan dia sampai agak lebih tenang, kemudian mulailah gerakan alamiah untuk coitus yang membara itu kulakukan.

Maryati kembali terpekik sambil meronta dengan mulut mendesis dan melengguh. Tembakan batang kejantananku kulakukan semakin cepat, dengan gerakan berubah-ubah baik dalam hal sudut tembakannya, maupun bentuknya dalam melakukan penetrasi. Kadang lurus, miring, juga memutar, membuat Maryati benar-benar seperti orang kesurupan. Wanita ini kelihatanya sudah total lupa diri. Tangannya mencengkram pundakku, lalu mendadak kepalanya terangkat ke atas, matanyaterbeliak, giginya dengan kuat menggigit pundakku. Dia orgasme! Gerakan keluar-masuk batang kejantananku kutahan dan hanya memutar-mutarnya, mengaduk seluruh liang sanggama Maryati, agar bisa menyentuh dan menggilas bagian-bagian sensitif di sana.

Wanita berpinggul besar ini meregang dan berkelonjotan berulang kali, dalam tempo waktu sekitar dua puluh detik. Semuanya kemudian berakhir. Mata dan hidungnya segera kuciumi. Pipinya yang basah oleh air mata, kusapu dengan hidungku. Tubuhnya kupeluk semakin erat, sambil mengatakan permintaan maaf atas kebiadabanku. Maryati cuma membisu. Kami berdua saling berdiaman. Kemudian aku mulai beraksi kembali dengan terlebih dahulu mencium dan menjilati leher, telinga, pundak, ketiak serta buah dadanya. Kocokan kejantananku kumulai secara perlahan. Kepalanya kuarahkan ke bagian-bagian yang sensitif atau G-Spot wanita ini. Hanya beberapa detik kemudian, Maryati kembali gelisah. Kali ini aku bangkit, mengangkat kedua pahanya ke atas dan membentangkannya dengan lebar, lalu menghujamkan batang perkasaku sedalam-dalamnya. Maryati terpekik dengan mata terbeliak, menyaksikan batang kejantananku yang mungkin jauh lebih besar dari milik suaminya itu, berulang-ulang keluar masuk diantara lubang berbulu basah miliknya. Matanya tak mau lepas dari sana. Kupikir, wanita ini terbiasa untuk berlaku seperti itu, jika bersetubuh. Wajahnya kemudian menatap wajahku.

“Mas..” bisiknya. Aku mengangguk dengan perasaan lebih terangsang oleh panggilan itu, kocokanbatang kejantananku kutingkatkan semakin cepat dan cepat, sehingga tubuh Maryati terguncang-guncang dahsyat. Pada puncaknya kemudian, wanita ini menjatuhkan tubuhnya di tilam, lalu menggeliat, meregang sambil meremas sprei. Aku tahu dia akan kembali memasuki saat orgasme keduanya. Dan itu terjadi saat mulutnya melontarkan pekikan nyaring, mengatasi suara Krisdayanti yang sedang menyanyi di pesawat televisi di samping ranjang. Pertarungan seru itu kembali usai. Aku terengah dengan tubuh bermandi keringat, di atas tubuh Maryati yang juga basah kuyup. Matanya kuciumi dan hidungnya kukecup dengan lembut. Detak jantungku terasa memacu demikian kuat. Kurasakan batang kejantananku berdenyut-denyut semakin kuat. Aku tahu, ini saat yang baik untuk mempersiapkan orgasmeku sendiri.

Tubuh Maryati kemudian kubalikkan, lalu punggungnya mulai kujilati. Dia mengeluh. Setelah itu, pantatnya kubuka dan kunaikkan ke atas, sehingga lubang anusnya ikut terbuka. Jilatan intensifku segera kuarahkan ke sana, sementara jariku memilin dan mengusap-usap klitorisnya dari belakang. Maryati berulang kali menyentakkan badannya, menahan rasa ngilu itu. Namun beberapa menit kemudian, keinginan bersetubuhnya bangkit kembali. Tubuhnya segera kuangkat dan kuletakkan di depan toilet tepat menghadap cermin besar yang ada di depannya. Dia kuminta jongkok di sana, dengan membuka kakinya agak lebar. Setelah itu dengan agak tidak sabar, batang kejantananku yang terus membesar keras, kuarahkan ke kelaminnya, lalu kusorong masuk sampai ke pangkalnya. Maryati kembali terpekik. Dan pekik itu semakin kerap terdengar ketika batang kejantananku keluar masuk dengan cepat di liang sanggamanya. Bahkan wanita itu benar-benar menjerit berulangkali dengan mata terbeliak, sehingga aku khawatir suaranya bisa didengar orang di luar.

Wanita ini kelihatannya sangat terangsang dengan style bersetubuh seperti itu. Selain batang kejantananku terasa lebih dahsyat menerobos dan menggesek bagian-bagian sensitifnya, dia juga bisa menyaksikan wajahku yang tegang dalam memompanya dari belakang. Dan tidak seperti sebelumnya, Maryati kali ini dengan suara gemetar mengatakan dia akan keluar. Aku cepat mengangkat tubuhnya kembali ke ranjang. Menelentangkannya di sana, kemudian menyetubuhinya habis-habisan, karena aku juga sedang mempersiapkan saat orgasmeku. Aku akan melepas bendungansperma di kepala kejantananku, pada saat wanita ini memasuki orgasmenya. Dan itu terjadi, sekitar lima menit kemudian. Maryati meregang keras dengan tubuh bergetar. Matanya yang cantik terbeliak. Maka orgasmeku segera kulepas dengan hujaman batang kejantanan yang lebih lambat namun lebih kuat serta merasuk sedalam-dalamnya ke liang kewanitaan Maryati.

Kedua mata wanita itu kulihat terbalik, Maryati meneriakkan namaku saat spermaku menyembur berulang kali dalam tenggang waktu sekitar delapan detik ke dalam liang sanggamanya. Tangannya dengan kuat merangkul tubuhku dan tangisnya segera muncul. Kenikmatan luar biasa itu telah memaksa wanita ini menangis.

Aku memejamkan mata sambil memeluknya dengan kuat, merasakan nikmatnya orgasme yang bergelombang itu. Ini adalah orgasmeku yang pertama dan penghabisanku dengan wanita ini. Aku segera berpikir untuk berangkat besok ke Kalimantan, ke tempat pamanku. Mungkin seminggu, sebulan atau lebih menginap di sana. Aku tidak boleh lagi mengulangi perbuatan ini. Tidak boleh, meski misalnya Maryati memintanya.

Bonus asuransi

Tahun 2007 ada sebuah kenangan indah di daerah wisata Kopeng masuk
wilayah Kabupaten Salatiga di Jawa Tengah dan waktu itu aku masih
bekerja di salah satu perusahaan jasa pelayaran di Semarang. Pak

Bram, sebut saja begitu adalah pimpinan tempatku bekerja sebagai insurance agent, dan beliau
saat itu berusia kurang lebih 48 tahunan namun potensi seksualnya
masih hebat. Aku sendiri menempati posisi deputy dari Pak Bram dan
semua sepak terjangnya sudah ada pada tanganku semua dan aku tetap
menjaga kepercayaannya padaku. Itulah kenapa sekretarisnya selalu
berganti-ganti dan selalu muda dan cantik-cantik padahal menurutku
perusahaan yang tidak begitu besar itupun belum membutuhkan seorang
sekretaris. Hanya saja saat jam istirahat dan menjelang kepulangan
Pak Bram, si sekretaris tadi disibukkan dengan acara office party.

Kalau sudah jam-jam sibuknya Pak Bram itu, kami seluruh kantor tidak
berani mengganggu acaranya yang membutuhkan waktu, biasanya rata rata
45 menit sampai 1 jam. Dan entah apa yang mereka lakukan berdua
dengan sekretarisnya selama itu, namun yang jelas setiap kali office
party itu berakhir, Pak Bram kelihatan lebih fresh dan sebaliknya
sekretarisnya nampak sedikit kusut dan menampakkan ekspresi kurang
puas. Seluruh telepon yang minta sambung ke Pak Bram pasti tidak akan
disambungkan dengan alasan keluar kantor atau lunch.

Suatu hari datanglah seorang agen asuransi seorang wanita untuk
menawarkan jasa ke kantor kami, dan saat itulah Pak Bram melihat
wanita itu dan diminta masuk ke ruangannya.
"Saya Sofi," wanita itu memperkenalkan dirinya.
"Bram," seraya mengulurkan tangannnya.
"Saya Prasetyo," sahutku memperkenalkan diriku.
Singkatnya Pak Bram nampaknya tertarik dengan jasa asuransi itu dan
mengikut sertakan seluruh karyawan perusahaan tempat kami bekerja.
Dan saat itu juga Pak Bram menandatangani perjanjian dengan
perusahaan asuransi dari Mbak Sofi.
"Every thing is OK, jika ada apa-apa hubungi saja Pak Pras, yach,"
kata Pak Bram mengakhiri perjanjian kami.

Aku akui memang wanita itu pandai dan menarik sekali cara
perkenalannya atau kami sudah terlena oleh kemolekan tubuh wanita
ini. Seminggu kemudian Mbak Sofi mengantar polis-polis ke perusahaan
kami dan kebetulan Pak Bram sedang dinas ke Jakarta dan kali ini aku
yang harus menemui.
"Maaf Pak Bram lagi ke Jakarta, silakan duduk! mau minum apa?" kataku
menyambut mereka di ruanganku.
"Apa saja dech yang segar," sahut Sofi.
"Oh iya, Pak Pras, kenalkan ini asisten saya, namanya Yeni," kata
Sofi memperkenalkan rekan kerjanya.

Acara serah terima polis berlangsung begitu cepat dan sejenak kami
hening dan terdiam tiba-tiba, suasana terlihat kaku.
"Wow, selera Mas Pras boleh juga," kata Sofi tiba-tiba.
"Em, emangnya kenapa Mbak?" tanyaku semakin akrab saja.
"Tuh..." kata Sofi sambil menunjuk ke arah kalender meja yang
bergambar cewek bule polos dengan pose mengundah nafsu yang
melihatnya.
"Yach maklumlah aku khan laki-laki Mbak, nanti kalo gambarnya cowok
wah.., lha bisa berabe," sahutku sekenanya.
"Begini Pak Pras, selain menyampaikan polis kami ke sini juga ingin
memberikan bonus untuk perusahaan ini karena omzetnya besar sekali,"
kata Sofi di sela-sela gurauan kami.
"Baik nanti saya sampaikan ke Pak Bram, terus..." pembicaraanku di
sela oleh Sofi.
"Begini Pak Pras nanti kita bicarakan di dinner party, kita akan
kasih tau tempatnya," kata Sofi sambil menatap tajam ke arahku.

Besok adalah hari Sabtu, biasanya kantor kami masuk setengah hari,
dan siang nanti aku harus jemput Boss yang datang bersama
sekretarisnya. Dalam perjalanan HP-ku berdering dan nampaknya dari
Sofi.
"Prasetyo di sini," jawabku.
"Mas Pras, entar malem bisa khan? tempatnya rahasia, nanti sore kita
jemput di kantor," kata Sofi.
"Apaan sich pakai rahasia segala," tanyaku yang membuat Pak Bram
penasaran.
"Sebentar Fi, aku lagi bersama Pak Bram dan Mbak Niken," jawabku.
"Pak Bram, ini dari Sofi mengajak makan malem entar malem, dan mereka
akan membicarakan soal bonus, akan tapi dia merahasiakan tempatnya,"
aku menyampaikan pesan Sofi semua ke Pak Bram.
"Mas, aku ikutan yach," rengek Niken manja.
"Hem emhh..." sahut Boss tuaku.
"OK, Mbak Sofi nanti sekalian Mbak Niken juga ikutan," aku menyambung
pembicaraan ke Sofi.
Sofi terdiam sejenak lalu, "Its OK, Yeni juga kau ajak kok, pokoknya
siiplah, bye," Sofi menutup pembicaraan kami.

Kami berbalik arah atas perintah Pak Bram untuk menuju kantor karena
sebentar lagi sore dari pada ke rumah Pak Bram nanti urusan sama
istrinya bisa berabe. Kantor sudah lengang karena sudah pada pulang
sejak pukul 13.00 tadi dan tinggal kami bertiga serta satpam penjaga
kantor.Begitu sampai di kantor Bram dan Niken rupanya tidak dapat
menahan gejolak birahinya dan dengan terburu-buru masuk ke ruangan
Bram namun pintu masih terbuka sedikit. Akhirnya aku tahu apa yang
dilakukan Bram dengan sekretaris-sekretarisnya dahulu, juga dengan
Niken dengan mata kepalaku sendiri.

Desahan nikmat Bram semakin keras dari ruanganku yang kebetulan
bersebelahan, demikian pula desah Niken. "Niken, aahhmmm.. mmmpphh...
hisepph... aaaghhh..." desah Bram membuat birahiku perlahan bangkit
dan menjalar ke selangkanganku untuk mengacungkan diri. "Braaamm...
gelliii," desah Niken kemudian. Namun yang aku dengar hanya desah dan
dengusan nafas Bram yang tenggelam dalam birahinya, dan kemana desah
manja Niken? tanyaku dalam hati. Beberapa saat kemudian, "Nikenhhh...
ahhgghhh.. kku.. kell..." kata Bram terbata-bata menahan laju
spermanya. "Aaaghhh..." teriak Bram keras menyemburkan spermanya
diiringi suara gaduh dari ruangannya, sepertinya benturan kursi
dengan meja. "Emmmpphhh..." Niken mendesah lirih. Sebentar kemudian
terdengar orang mengguyurkan shower, pasti si Niken lagi bersih-
bersih, tebakku. Lalu ruangan itu kembali hening, hanya obrolan-
obrolan pelan dari ruangan itu, kadang aku dengar suara tertawa kecil
dari Niken.

"Pras, sini lho jangan bengong di situ," suara Bram keras memanggilku
saat aku mulai menjelajah internet di PC-ku.
"Sebentar Boss," sahutku dan dengan sengaja aku buat lama agar mereka
sempat merapikan pakaian masing-masing.
Lebih kurang tiga menit berlalu aku baru berani mengetuk pintu Boss
yang terbuka sedikit namun aku masih ragu-ragu.
"Masuk Pras, kemarilah kita berpesta," kata Bram datar.
Alangkah terkejutnya aku ketika masuk ke ruangan itu melihat Niken
tergolek bugil di meja Bram, sementara Bram masih menghisap puting
Niken, dan jari tengahnya bekerja di vagina Niken yang terlihat basah
oleh sperma Bram. Sperma Bram nampaknya cukup banyak sampai meleleh
di meja di sela-sela bongkahan pantat Niken yang padat kenyal.

"Mmm.. maaf Pak," kataku tergagap, namun aku melihat Niken tidak
bereaksi dan masih merem melek oleh permainan jari Bram di
vaginannya. "Pras, ayo bantu aku puasin Niken, aku udah lumayan capek
Pras," kata Bram datar dan tidak aku perkirakan sebelumnya. Melihat
pemandangan sedap itu penisku tegang seketika dan berereksi maksimal
dan membayangkan bagaimana kalau vagina sempit itu aku jejali dengan
penisku sepanjang 16,5 cm dengan diameter 4 cm. "Jangan bengong,
tunggu apa lagi!" teriak Bram. Aku menghampiri mereka berdua dan
sedikit takut juga pada Bram meski sebelumnya aku pernah threesome
waktu kuliah dulu dengan teman-temanku. Akan tetapi yang aku hadapi
ini situasinya lain, karena dia adalah Boss-ku dan sekretarisnya.

Niken menatapku penuh harap dan dari mimiknya aku tahu dia sangat
mengharapkan permainan seksnya, tidak ada pada satu pihak dan
kesimpulanku Niken belum menggapai orgasmenya. Aku menghampiri Niken
dari sisi meja lainnya kemudian aku kecup mesra sekali bibirnya
sambil kubelai lembut rambutnya. Kami bercumbu lama sekali dan di
sela-selanya kadang Niken mendesah oleh permainan jari Bram, rasanya
tidak menarik lagi baginya. "Emmhhh.. Prasshh..." desah Niken yang
tampak semakin gelisah menggapai orgasmenya yang gagal bersama Bram.
Aku maklum, memang seusia Bram itu nafsu kuda tenaga ayam karena
usia. Tangan Niken mulai menggapai zipper lantas dengan cepat Niken
mengeluarkan isi celanaku yaitu batang pejal yang hangat. "Prasshh...
aaakhh..." Niken menggapai-gapai kepalaku untuk segera menghisap
putingnya, sementara tangan kirinya mengocok dengan lembut penis
kesayanganku.

"Pras.. ayooo!" rengek Niken, namun aku melirik ke arah Boss-ku yang
tampak seperti anak kecil di tetek ibunya. Tampak olehku penis Bram
lucu bentuknya, kecil sekali, pantas saja Niken masih terangsang.
Bram memberiku isyarat agar aku segera melakukan permintaan Niken,
lalu aku pelorotkan sedikit celanaku. Aku kemudian berjalan ke sisi
lain meja dan mengatur posisi untuk segera melakukan penetrasi ke
vagina Niken.

"Aoohh mmpphh... aaaghh..." Niken menggumam ketika setengah penisku
dengan mudah membongkar rongga rahimnya yang licin oleh sisa sperma
Bram. "Ahhggh ssshhh.. aaaghkkk..." Niken tampak meringis ketika aku
membenamkan seluruh batang penisku ke vaginanya dan terasa olehku
ujung penisku mendesak rahim atasnya. Aku diamkan sesaat lamanya
penisku tenggelam dalam rahimnya dan menikmati kehangatan yang
terpancar dari genital kami masing-masing. Kemudian aku kocok penisku
perlahan dan lembut agar kehangatan dan kasarnya lebih terasa
bergesek dengan bibir vaginannya. Niken tampaknya suka dengan apa
yang kulakukan, terlebih saat Bram mulai memainkan bukit indah di
dadanya dimana putingnya masih nature dan kenyal. "Aaahgghh...
ssshhh... sshhh... aagghhh..." Niken mulai menggelinjang lembut
menyambut apa yang ia harapkan. "Prasssh... aagghh.. kuu... agghh...
aaakkhh..." sampai juga Niken pada momen yang diharapkannya. Akan
tetapi Niken masih menguasai orgasmenya, sehingga ia tidak larut
dalam kenikmatan pertamanya.
Aku memberinya waktu untuk beristirahat, dan ketika aku hendak
mengambilkan air mineral, buru-buru Bram mencegahnya dan ia memberiku
isyarat agar tetap di dekat Niken, kali ini Bram yang melayani kami.
Setelah itu ia ke bathtub dan berendam air hangat di sana. Aku
mengambil tissue di meja Bram dan aku sapukan lembut di bibir vagina
Niken yang basah oleh cairannya sendiri dan sisa-sisa terakhir sperma
Bram. Aku jongkok di sisi meja, lalu aku buka lebar-lebar kedua kaki
Niken, nampaklah kini bongkahan daging kemerahan yang rambutnya
tercukur habis lagi bersih. Kutempelkan bibirku di bibir vaginanya
untuk melakukan oral seks, dan ketika aku buka bibir vaginanya dengan
telunjuk dan jari tengahku terciumlah bau harum yang khas dari Niken.
Aku menjilat dari pangkal anus Niken sampai sisi vagina bagian depan
begitu berulang-ulang dan aku sela dengan gelitik ujung lidahku di
mulut vaginanya.

"Ooogghhk.. aaagghhmm.. punnhh.. aaahh... Prassstth... aaaghh..."
Niken melonjak-lonjak, pinggulnya goyang kiri-kanan di atas meja
berlapis kaca. Bokong Niken leluasa bergerak karena sperma Bram dan
mani Niken sendiri bercampur meleleh di permukaan kaca meja tersebut.
Setelah agak lama oral seks terhadap Niken aku lalu berdiri dan
melepas semua pakaianku yang sedari tadi belum sempat terlepas. Niken
membuka lebar-lebar kedua pahanya dan memegangi kedua tungkainya,
matanya terpejam menyambut sensasi yang segera ia rasakan. Kedua
bibirnya yang seksi itu ia buka memancing birahiku untuk segera
menyetubuhinya. Aku remas sendiri penisku dan semakin mengeras dan
panjang saja di hadapan Niken, kemudian perlahan aku tempelkan di
mulut vagina Niken. Tepat saat Niken menyibakkan rambutnya aku
hujamkan pelan memasuki rongga rahimnya.

"Prassshh... aaaooookkh mmmphh... mmpfff..." gumam Niken.
"Mmmpphh... puaskan aku yach sayang..." rengek Niken manja.
"Slerphh..." 16,5 cm penisku kembali menjejali rahim Niken.
Aku membiarkannya diam terbenam di rahim Niken sambil memainkan otot-
otot penisku untuk memberi rasa geli pada Niken.
"Prasshhh... ooaaakhh... aakhhh... mmpphhh.. nikmat sekali, pintar
kamu Pras..." puji Niken.
"Mau yang lebih nikmat say..?" tanyaku.
"Mpphhh..." Niken hanya memejamkan matanya menyambut apa yang akan
aku lakukan atas vaginanya.
Pelan namun pasti aku mulai mengocok lagi lubang rahimnya yang masih
perat dan sempit itu.
"Aaaghh... aaghhh... ssshhh mmfffh... terusshh... aaannggghh..."
ceracau Niken.
Aku sedikit menarik dadaku agar tubuhku tegap berdiri dengan begitu
kepala penisku akan dengan mudah menyentuh G-spot-nya.

"Aaakkhhh.. yacchhh.. yaahh... mmpphhh... aaanggghhh yaahhh," Niken
semakin tenggelam dalam irama birahinya. Ia meremas sendiri kedua
payudaranya dan kadang putingnya ia tarik sambil dipilin-dilepas lagi
dan diulangi lagi berulang sehingga ia sendiri semakin tenggelam
dalam ritme yang mengasyikkan ini. "Aaaghkku.. agh ahhk... aaahh...
aahh.. aamphh..." Niken melepas kedua tangannya dari dadanya dan
berpegangan erat pada kedua sisi meja. Kepalanya oleng seperti orang
kesurupan lalu dadanya ia busungkan, pinggulnya bergelinjang penuh
dengan gairah birahi yang mendalam. Kami semakin jauh tenggelam dalam
irama permainan ini dan tak menghiraukan lagi Bram yang dengan
santainya menyaksikan permainan panas kami. Namun ketika Niken mulai
tak dapat menguasai dirinya tampaknya Bram horny juga karena aku
melihat tangan kanannya terlihat mengocok penisnya sendiri dan yang
kiri memegang segelas Sampanye.

"Nikeenn.. aak... aahhh..." aku tak sanggup menahan laju spermaku dan
bersamaan itu pula. "Prassshhh.. aaakh... aaaghhh..." Niken menjerit
dan memegang erat kedua sisi meja, pinggulnya ia hentakkan kencang-
kencang dan dikombinasikan dengan goyangannya. Apa yang Niken lakukan
membuatku semakin tak tahan, dan sedetik kemudian aku memancarkan
maniku banyak sekali. "Aaagghh..." desahku keras. Rupanya denyutan
penisku saat maniku memancar menyebabkan Niken kegelian dan buru-buru
ia bangun lalu mendekapku erat-erat. Kami berdekapan mesra sampai
tetes maniku terakhir aku rasakan. Sekejap aku melihat wajah Bram
terlihat tegang dan kedua giginya terkatup rapat, sementara tangan
kanannya terlihat semakin cepat mengocok penisnya dan tiga detik
kemudian ia terlihat puas melempar senyum ke kami.

"Hem.. udah puas Nik?" suara Bram itu mengagetkan kami.
Niken menoleh ke arah Bram di bathtub lalu menganggukkan kepalanya,
lalu kami french kiss lama bak sepasang kekasih.
"Terima kasih Pras, entar malem pasti lebih hot," bisik Niken.
"Ha.." aku terkejut.
"Udah ach entar tau sendiri," bisik Niken.
"Hayoo... rencana busuk apa itu kok bisik-bisik?" tanya Bram
berkelakar.
Niken tersenyum kecut lalu menyusul Bram ke bathtub. Setelah
merapikan pakaianku, aku kembali ke ruanganku lalu mandi dan aku
teridur di kursi kerjaku. Singkat dan tak kuduga sebelumnya
percintaanku dengan Niken namun masih terasa gigitannya itulah
kesimpulanku saat bercinta dengan Niken di ruang Bram.

Tak terasa sudah jam lima sore saat aku terjaga namun kulihat ruangan
Bram tertutup rapat, khawatir janji dengan Sofi molor maka pintu aku
ketuk pelan dan kudengar suara Niken mempersilakan aku masuk.
"Masuk Pras!" suara Niken mempersilakan aku masuk.
"Mana Pak Bram?" tanyaku saat melihat Niken.
"Sedang keluar," kata Niken setengah mendesah.
"Kenapa..?" aku membalasnya dengan setengah berbisik di belakang
telinga Niken.
"Masih terasa mengganjal di sini Mas.." Niken menunjuk ke
selangkangannya yang ia buka melebar.
"Punya Mas besar dan panjang sich dan pokoknya mmmpphhh..." imbuh
Niken seraya mengusap-usap vaginanya sendiri dan membuat gerakan bak
disetubuhi.
"Akh udah ah, entar ketahuan Bram lho," kataku sambil membimbing
Niken berdiri.

Kemudian kami bersiap menyambut Sofi dan Bram yang akan menjemput
kami petang ini. Kami duduk di lantai atas kantor kami sambil minum
ginseng yang dibelikan oleh security kami. Tampak di luar masih
terlihat kesibukan pelabuhan yang tak pernah akan berhenti, kami pun
terlibat obrolan santai. Akhirnya aku tahu bahwa Niken menolak kalau
dituduh simpanan Bram dan yang ia lakukan hanyalah demi uang dan
karir. Ia mau berbuat begitu karena dikhianati oleh pacar yang amat
disayanginya yang tega menghamili gadis lain. Dari Niken juga aku
tahu bahwa Bram itu orangnya "Edi Tansil" alias Ejakulasi Dini Tanpa
Hasil. "Baru diisep dua kali aja sudah ngecritt.. alias maninya
muncrat," kata Niken pada suatu kesempatan. Kasihan benar kamu Niken,
bisikku dalam hati. Lalu aku menarik nafas dalam-dalam.

"Oh iya Niken, apa maksud kamu tadi itu?" selidikku.
"Yang mana?" tanya Niken lupa.
"Itu lho, katanya nanti malem akan lebih hot!" sahutku.
Niken termenung sesaat.
"Sebetulnya ini rahasia dari Bram, cuma karena tadi aku sangat puas
dengan permainan Mas Pras akhirnya aku kelepasan ngomong," jelas
Niken.
"Begini Mas Pras, sebetulnya Bram sudah tahu kalau Sofi akan
memberikan bonus dalam rangka aplikasi asuransi kemarin," imbuh Niken.
"Terus..." tanyaku penasaran.
Niken sepertinya keberatan, lantas terdiam lalu berdiri dan meghisap
dalam-dalam filter kesukaannya. Matanya menerawang jauh ke laut lepas
seolah ingin menumpahkan semua beban hidupnya di sana.

"Nik..! kamu baik-baik saja kan?" aku bertanya pada Niken dan
menghampirinya lalu kudekap Niken di samping kiriku.
"Nggak! nggak apa-apa kok Mas," tukas Niken membalikkan badannya
menghadapku.
"Tapi wajah kamu kok keruh begitu..?" aku mencoba agar dia mau curhat
padaku.
"Mas Pras! tapi ini sangat rahasia, jadi tolong simpan untuk Mas Pras
saja," pinta Niken.
Aku tidak berkata sepatah katapun karena aku rasa Niken sudah percaya
kepadaku.
"Begini Mas...!" Niken mulai curhatnya kepadaku panjang lebar yang
intinya sikap Bram yang mulai terlihat mencampakkan Niken seperti
baru saja terjadi antara aku, Niken dan Bram dimana Bram mengijinkan
Niken aku setubuhi.
"Habis manis sepah dibuang," kata Niken penuh kekesalan.
"Niken! dunia ini tidak hanya milik Bram atau milik kamu ataupun
milik aku saja, tetapi dunia ini luas," hiburku.
Secara jujur aku akui bahwa akhir-akhir ini aku juga merasa kesal
dengan Bram yang semakin otoriter saja dan ini bertentangan dengan
pribadiku.

"Sebenarnya aku sudah punya perusahaan sendiri yang aku percayakan
pada salah seorang sahabatku. Sekarang masih tahap trial running dan
membutuhkan accounting officer, kebetulan Niken kan background-nya
accounting punya dan kala Niken bersedia Niken boleh berkarir di
sana," kucoba memberi Niken alternatif yang baik.
"Tapi..." Niken tampaknya ragu namun segera aku yakinkan.
"Nik! apakah aku seperi Bram dan... emhh, entah apa yang terjadi tadi
tiba-tiba aku tak sanggup menolaknya?" kutatap matanya dalam-dalam
untuk meyakinkannya, lalu aku yakinkan lagi dengan sebuah kecupan
mesra di dahinya.
"Aku tahu dan maklum kepada Mas Pras sebagai lelaki muda dan..."
Niken berhenti bicara sejenak seperti berpikir sesuatu.
"Dan jantan..." tukas Niken dengan senyum manisnya yang merebak
membuat wajahnya kembali bersinar.

Niken menghisap dalam-dalam kretek filternya mild-nya, lalu
mencampakkan puntungnya ke vas bunga dekat jendela.
"Mas, acara nanti malam adalah rencana Bram agar dapat berkencan
dengan si Sofi dan Yeni bersama kita," jelas Niken.
"Bersama kita..." aku terheran.
"Yach fivesome lah... dan sudah jadi rahasia umun kan ada beberapa
jasa semacam itu yang memberikan bonus service yang hot," kata Niken
datar.
"Tapi Mas Pras nggak usah kuwatir, aku akan melampiaskan semua
kekesalanku atas Bram pada Mas Pras, so siap-siap saja yach," ancam
Niken dengan senyumnya yang seksi yang semakin membuat hatiku
berbunga.
"Dan Mas Pras akan jadi raja malam ini," ejek Niken.
"Gila kali..." kataku pelan dan tiba-tiba saja HP-ku berdering.
"Yes Boss..." jawabku pada Bram.
"Aku sampai di Gajah Mada nich, jadi siap-siap saja, sekali celup
masih bisa kok Pras," kelakar Bram.

Aku tidak merespon kalimat terakhir Bram tadi hingga Bram menutup
pembicaraan kami.
"Oh iya, kalian langsung saja ke Kopeng (Bram menyebut nama salah
satu wisma), kita ketemu di sana," ajak Bram.
"Ok, Niken ayo kita bersiap."
Aku menggandeng Niken menuruni tangga kantor kami menuju Kijang
kesukaanku. Dalam perjalanan ke Salatiga aku mempersilakan Niken
untuk istirahat agar badannya kembali bugar. 1 jam perjalanan aku dan
Niken tiba di wisma yang dimaksud oleh Bram, Niken masih tampak
terlelap, aku mencoba membangunkannya dengan cara mengecup lembut
bibirnya. "Mpphhh.. udah nyampai yach..." Niken mulai tersadar dari
tidurnya.

Wisma itu besar sekali dan terletak agak jauh dari jalan raya
Salatiga-Magelang, mempunyai 4 kamar sekelas president suite. Melihat
bangunannya ini termasuk bangunan baru namun ber-arsitek mirip
bangunan lama. Bram sudah sampai duluan bersama Sofi dan Yeni yang
nampak mesra di kiri dan kanan Bram di koridor depan. Melihat
kedatangan kami Sofi lalu berdiri dan menyambut kedatangan aku dan
Niken.
"Have a hot party," katanya sambil mengerlingkan nakal matanya.
"Ayo kita santap malam!" ajak Sofi ke ruag tengah.
Ruangan tengah berhias lampu kristal mahal dan interiornya tertata
rapi berhampar permadani merah menambah hangatnya suasana meski udara
di sana terasa menggigit sampai ke tulang. Kami lantas makan bersama
dan dilanjutkan berenang di warm water pool dan setelah itu acara
jalan-jalan sekitar wisma itu menghirup udara segar pegunungan
bercampur aroma sayuran khas pegunungan. "Nich room service-nya, bila
perlu apa-apa tekan saja extention 9 untuk room service atau
membutuhkan sesuatu," kata Sofi ketika kami melewati sebuah bangunan
saat kembali ke wisma.

Kami duduk-duduk di ruang depan, sementara Sofi sibuk dengan
mempersiapkan ruangan tengah. Niken sedari tadi bergelayut manja
padaku tampak acuh dengan Bram di depan kami yang merangkul mesra
Yeni. Tampak sesekali Bram mencium bibir Yeni bahkan terang-terangan
meremas selangkangan Yeni di depan Niken, Yeni sendiri rupanya juga
sudah "on" berat tak memperdulikan sekitarnya. "Ternyata brengsek
juga si Bram ini, tidak peduli perasaan Niken," makiku dalam hati.
Semakin lama sikap Bram semakin cuek saja, akhirnya aku menarik Niken
untuk ke teras samping yang menghadap ke kebun sayuran. Kami
berbicang ringan di sana tentang sejuknya dan betapa indahnya alam
ini kira-kira setengah jam kami habiskan waktu untuk ngobrol. Aku dan
Niken lalu masuk kembali ke ruangan semula dan aku amati wajah Yeni
semakin kelihatan horny sekali, demikian juga Bram, namun mereka
(Bram dan Yeni) tak dapat memulai sendiri pestanya harus bersama-
sama. Wajah Yeni tidak begitu cantik namun bodinya yahut banget,
dadanya membusung, tubuhnya putih mulus terawat, tungkainya lancir
berkombinasi dengan pantatnya yang bulat padat menandakan bahwa power
sex-nya pastilah meletup-letup dan aku yakin Bram hanya sekali goyang
sudah kelojotan.

Diam-diam aku lebih bergairah jika melihat Yeni dari pada Sofi,
apalagi melihat dahinya yang sedikit nonong tentu bongkahan
selangkangannya juga tebal dan luas. Perfectly, bathinku. Darah
lelakiku semakin berdesir kencang. Sofi sendiri orangnya montok
berisi tapi tidak dapat dikatakan gemuk, tepatnya adalah semok alias
seksi dan montok, kulitnya kuning dan rambutnya pendek sebahu.

Pukul 19.00 Sofi mempersilakan kami untuk memasuki arena dan perlahan
tirai penutup koridor sutera merah itu tertutup demikian pula untuk
tirai jendela lainnya dan tiba-tiba ruangan berubah menjadi
hangat. "Inilah bonus itu Mas Pras," bisik Niken di sela-sela langkah
kami ke ruang tengah. Benar-benar bonus yang hebat dan aku tidak
pernah habis pikir akan hal ini, lantai ruangan tengah yang tadi
beralaskan karpet merah kini berlapis kain satin lembut, entah apa
maksud dari interior ini, aku masih bertanya dalam hati.

Kami sudah di balik tirai itu dan berada di ruang tengah namun Sofi
menjelaskan aturan mainnya yaitu semua peserta harus melepas pakaian
yang ada di tubuh kami masing-masing dan bagi yang wanita silakan
dandan secantik-cantiknya di washroom yang tersedia, dan bagi laki-
laki dipersilakan mengambil suplemen penyegar tubuh agar tetap fit.
Aku melihat tampak ada beberapa jenis dan aneka warna vibrator yang
tersedia bagian pinggir sisi meja lain yang membuat pesta ini
kelihatan lebih lengkap. Sofi bak seorang guide professional memberi
petunjuk kepada yang lain dan aku akhirnya bisa menebak bahwa
sebentar lagi akan ada nude party. Aku terperangah ketika melihat
Niken baru saja keluar dari washroom, diikuti Yeni, kemudian Sofi,
wajah ketiganya anggun berhias bibir sensual yang merah menantang dan
masing-masing punya kelebihan, si cantik yaitu Niken, si hyperseks
yaitu Yeni, dan si semok Sofi. Bau harum lebih menyeruak ke ruangan,
dan aku melihat Bram jakunnya semakin cepat naik-turun pertanda
birahinya sudah di ubun-ubun.

Sofi dan Yeni menghampiri Bram, sementara Niken mendekat ke arahku,
aku melihat Bram bergelayut mesra di dada Yeni karena Bram orangnya
agak pendek sedangkan Yeni memakai sepatu hak tinggi. Aku dan Niken
tersenyum geli saat Bram menyusu Yeni sambil berjalan ke arah meja ke
ruangan itu karena kelihatan lucu. Musik mengalun lembut menambah
hangat suasana pesta ini dan aku semakin tenggelam dalam rengkuhan
bibir Niken. Di setiap sudut ruangan ada monitor 29 inchi menampilkan
film seks sehingga menambah panas suasana pesta ini. Udara pun tak
lagi terasa dingin justru semakin terasa amat panas oleh cepatnya
aliran darah kami masing masing. Aku dan Niken mengambil segelas
sampanye lalu saling suap sambil berdansa mesra, saling dekap saling
cumbu dan saling pagut. Tubuh kami seimbang karena Niken menggunakan
sepatu berhak tinggi sehingga pinggul kami pun tepat bersentuhan.
Kedua telor penisku terasa mengusap lembut bibir luar vagina Niken
membuat kami kadang merinding kegelian bercampur nikmat.

Bram yang sedari tadi tampak sudah tak tahan ingin segera menyetubuhi
Yeni meminta Yeni mengambilkan buah anggur hijau di tengah meja.
Karena letak buah anggur itu di tengah meja maka praktis Yeni harus
menungging saat mengambilnya. Namun bukanlah Bram kalau tidak berbuat
begitu, karena begitu Yeni terlihat mengangkat tumitnya maka
merekahlah vagina Yeni lalu buru-buru Bram jongkok dan mencumbui
vagina Yeni dari arah belakang. "Aaaghhh..." Yeni tampak kaget namun
menikmatinya dan acara "mengambil anggur" itupun berubah menjadi
acara "jilat kacang". Yeni memang pandai memasang umpan atas Bram,
dia menikmati jilatan demi jilatan Bram dengan desahannya. Bram
memang banyak makan garam, karena dengan permainan lidah Bram, Yeni
semakin mendesah hebat dan diikuti lenguhan-lenguhan nikmat. Bram
menjilat dari lubang anus yang sedikit memerah ke depan menuju bibir
sampai sudut bibir vagina bagian depan kemudian berhenti memainkan
ujung lidahnya di klitoris Yeni.

"Aaaoohh sshhh.. oohhss hhh.. oohh.. ssshhh.. aagg... oohhghh," Yeni
rupanya mendekati orgasmenya. Sofi kemudian mendekati Yeni dan
jongkok di antara Yeni dan meja, dan dengan sigap sudah terlihat
memainkan buah dada Yeni bagian kiri dan yang kanan ia hisap dalam-
dalam. Tangan Bram mulai menggapai meraba-raba punggung bagian atas
kemudian ke bawah berulang-ulang. Yeni terperangah nikmat apalagi
Bram kini mulai menusukkan dua jari tangannya ke vaginanya. Dengan
cepat Yeni tak mampu menahan sensasi itu, lalu Yeni pun melenguh
panjang, wajahnya mendongak meregang orgasmenya. "Aaoughh mmpphhh..
aaahkk.. aahhk.. aampphh.. sshitthhogghhh.. sshhh..." ceracau Yeni,
matanya mendelik kemudian terpejam, pinggulnya ia putar-putar
mengikuti irama lidah Bram. Demikian pula pantatnya dihetakkan lembut
seirama tusukan jari Bram yang semakin cepat temponya dan tak
teratur. "Aaooghh.. aaashh sshhh... mmmpphh... aaahhggh," Yeni
melenguh menikmati detik-detik terakhir orgasmenya.

Yeni kemudian menyibakkan rambutnya dan membimbing Sofi untuk duduk
di meja, lantas dengan sigap Sofi segera membuka lebar-lebar sudut
kakinya. Yeni mulai memainkan ujung lidahnya belahan vagina
Sofi. "Oogghh.. Yenn... ssshhh... aahh mmpphh... hangat Yennhh..."
gumam Sofi. Sekembali Bram dari minum ia lalu menghampiri Sofi dan
terlihat mencumbui Sofi dengan lembut. "Oogghh.. Mas... Brammh...
aakhkh... mmpphff..." mulut Sofi tersumpal oleh bibir Bram.Sofi
melenguh, kadang mendesah manja, membuat aku dan Niken semakin
terhanyut oleh birahi. "Nikhh.. aaku masukin yach..." bisikku di
telinga Niken lantas memainkan belakang telinganya."Hem.. aaoghhh..
gelli.. Mass..." desah Niken. Aku sedikit membungkuk lalu tanpa
diperintah Niken membantu membimbing penisku memasuki
vaginanya. "Aahhghh.. hangat.. mpphh..." hawa hangat mulai menjalar
ke tubuh Niken dari selangkangannya mengalir ke seluruh bagian tubuh.
Rasa pejal dan hangat mulai merambah ke wajah Niken yang kini mulai
kelihatan memerah, di lain bagian aku rasakan bukit vaginanya semakin
menyembul karena tersumbal oleh penisku. Aku mulai mengocoknya
perlahan seirama musik lembut, sesekali Niken menjauhkan tubuhnya
dari aku untuk lebih menancapkan gigitan vaginanya yang semakin
hangat kurasa.

Sofi sudah mulai mendekati detik orgasmenya dan bersamaan itu
pula, "Ngghh... aaampphh... aaakkhh.. ogghhh... Mas.. Prasshh...
aakk... ooh.. aaaghhh..." Niken menggelinjang hebat dalam
rengkuhanku, kedua kakinya menegang hebat menahan tubuhnya yang
bergetar. Aku kemudian menarik sedikit pinggulnya ke bawah sehingga
kedua pahanya kini lebih terbuka lebar dengan demikian aku punya
kesempatan untuk menanamkan dalam-dalam secara keseluruhan penisku
yang panjang. "Aaghkk... ohhh mpmpp.. sshhh.. aaghhh.. aaghhh...
sshhh.." Niken menggapai orgasmenya, sangat sensasional tubuhnya
memeluk hangat tubuhku. Aku merasakan cairan hangat menyiram penisku
yang masih tetap berdenyut, lalu kami kembali pada irama dansa,
sementara penisku masih menancap di rahim Niken. Aku melihat di dekat
meja telah berganti posisi, dan Sofi memegang vibrator nyala
memainkannya di vagina Niken terduduk di meja dengan satu kaki ia
angkat dan satu kakinya bertumpu di lantai. Dari belakang Sofi, Bram
mengocokkan pensinya di vagina Sofi namun kelihatan ironis karena
vagina Sofi yang gemuk dan tebal itu beradu dengan penis kecil nyaris
tidak kelihatan. Aku sempat melirik Bram saat memasukkan penisnya ke
vagina Sofi yang nampak tergopoh-gopoh dan begiitu masuk seluruhnya
Bram mendesah. "Oohhgghh... hangat Soff..." desah Bram.

Sofi mulai menggoyang pinggulnya dengan teratur, memutar, sesekali
menghentak ke arah pangkal penis Bram. Bram kulihat kelojotan
mendapat serangan Sofi, begitu pula Yeni yang mulai mendesah
kepedasan oleh sensasi vibrator yang kini ia mainkan sendiri. Sofi
tenggelam dalam alunan birahinya lantas menggoyang cepat dan tak
teratur membuat Bram semakin bergetar dan "Aooghhh.. mmpphh... aakk..
keell..." teriak Bram menyambut semburan spermanya. "Ttt...
tungguu... aahkkkuu.. aaaooghhh.. aaooghg.. aammpphh asshhh aahh..
shhh..." Bersamaan itu pula sofi tegang dan sedetik kemudian tubuhnya
bergetar. Bersama itu pula penisku semakin berdenyut-denyut karena
gairahku dan hal ini menambah gelitik di vagina Niken, lalu Niken pun
tenggelam dalam orgasme yang berikut. Bram dan Sofi kemudian
berpelukan dan berpagutan mesra berjalan menuju sofa di salah satu
sudut ruangan. Lain halnya dengan Yeni yang kelihatan putus sudah
jenuh dengan permainan vibratornya, kemudian mendekati aku dan Niken.

Yeni mendekapku mesra dari belakang vaginanya yang memang masih
menyembul karena birahinya ia gesekkan sendiri ke pantatku.
Kenikmatan yang aku rasakan kali ini betul-betul nikmat, aku berdansa
dengan dua bidadari dan keduanya mendekapku dengan mesra. Penisku pun
kurasa semakin berdenyut tak teratur menandakan aku segera
memancarkan sperma. Namun karena Niken sedikit capai setelah dua kali
orgasme ia membimbingku menuju dekat meja. "Plopphh.." suara penisku
saat lepas dari gigitan vagina Niken. Niken melenguh lalu duduk di
sisi meja untuk mengambil sampanye lalu memberi isyarat agar aku
meneruskan permainanku. Aku rebahkan Yeni di shatin putih, kedua
pahanya aku buka lebar-lebar dan semakin merekahlah vagina Yeni. Tak
aku sia-siakan kesempatan ini untuk mengecup, mencumbu dan menjilat
vagina Yeni yang masih bersih (beruntung Bram menyetubuhi Sofi
dulu). "Aahghhh.. aapap mmhhh.. appmmhh... aaakkhh.. sshh," Yeni
mendesah, tangannya meremas dan memilin putingnya. Niken tanggap akan
hal ini lalu mendekati Yeni dan meletakkan kepala Yeni di pahanya,
kemudian Niken memainkan puting Yeni dengan mulutnya. Rabaan dan
remasan tangan Niken membuat Yeni semakin bergelinjang hebat dan
mempercepat orgasme Yeni yang sedari tadi tersendat. "Aaagghhh...
oooghhh.. oopppmmhhh... sshhh... shiitt hhh... aaahhkkk..." Yeni
mengawali orgasmenya dengan lengkingan panjang.

Berikutnya Yeni semakin bergelinjang dalam lenguhan-lenguhan
panjangnya, tubuhnya hangat tersumbal oleh penisku sementara di
bagian lain Niken menambah sensasi di putingnya. "Aaaghhkk.. kkuu..
mmppphhh... maauuh... aaghhh..." Orgasme berikutnya menyusul, apalagi
setelah penisku kudorong lebih dalam lagi membuat Yeni histeris.
Tubuh Yeni masih bergelinjang, pinggulnya ia putar goyang dengan
irama tak teratur semakin cepat dan semakin cepat, lalu aku rasakan
spermaku sudah berkumpul di ujung penis menyebabkan penisku semakin
mengeras. Semakin pejal dirasakan oleh Yeni dan Yeni kembali
menggapai orgasmenya yang serasa tiada akhir."Yennhh.. aakuu..."
desahku ketika hendak menggapai ejakulasiku. Yeni bangkit dan melepas
gigitan vaginanya, buru-buru ia meraih penisku dan sekejap sudah
tertelan dalam mulut seksi Yeni. Kocokan tangan berkombinasi dengan
sedotan kadang permainan lidah Yeni membuatku bergetar hebat dan aku
kini yang berdiri pada kedua lututku terasa ingin berdiri dan melepas
semua sperma yang ada di kantong spermaku.

"Uughhh.. shhh... Yennh... oookhhh... hisapphhh... ooghh..."
ceracauku saat menjelang ejakulasiku.
"Sssrrr... rotth.. crothh... crothhh..." entah berapa semprotan
maniku menyembur di mulut Yeni.
"Agghhh.... aampphhh.. oogghhh... hh... mmppphh..." aku masih
menikmati sisa-sisa orgasme.
"Ooghhh.. udahh... aaahhh..." pintaku pada Yeni ketika menjilat habis
sisa-sisa sperma yang meleleh dari lubang kencingku.

Lega rasanya semua birahiku tersalurkan setelah sekian lama
menyumbat. Malam semakin larut lalu kami beristirahat setelah
menghabiskan minuman yang ada. Bram lalu menuju ke kamar dan meminta
Niken melayaninya di sana, lalu aku menyusulnya, sementara Sofi dan
Yeni ke washroom untuk bersih-bersih. Niken menggapai orgasmenya saat
aku dan Bram menyetubuhinya, karena penis Bram kecil maka aku
sarankan ia melakukan lewat anus Niken sementara penisku yang panjang
aku hujamkan dalam-dalam ke rahim Niken. Niken bergelinjang hebat
oleh karena permainanku dan Bram. Bram kemudian tertidur karena
kecapaian ditemani oleh Sofi. Aku sendiri mengajak Yeni dan Niken ke
kamar lainnya dan menghabiskan malam panjang sampai spermaku terasa
betul-betul terasa kering sudah dan akhirnya aku tertidur dalam
pelukan dua bidadari.

Kami terbangun hampir bersamaan ketika matahari sudah tinggi lalu
menuju kolam renang dan berendam di sana sambil sarapan pagi. Sore
hari kami baru kembali ke Semarang dengan membawa bonus yang tak
terlupakan.

Nikmatnya pembantu sebelah

Aku tinggal disatu komplek housing, gak mewah sih, biasa2 aja. Tetanggaku seorang janda, usia 50 tahunan lah. Dia tinggal sendiri dengan seorang pembantu dan seorang supir yang mengantarkan si ibu kalo akan beraktivitas. Si ibu itu orangnya tinggi besar dan gemuk, mungkin beratnya 90 kg lah. Aku sih gak tertarik sama si ibu tapi sama pembantunya, Nyi Imas. Imas, dari namanya orang akan tau bahwa dia orang sunda, tepatnya orang banten, sejak banten berdiri sebagai satu propinsi yang terpisah dari jabar. Walaupun pembantu, Imas kelihatan seperti layaknya abg gedongan kalo dia pergi dengan si ibu. Pakaiannya selalu modis walaupun tidak ber merk, jeans dan T shirt ketat seperti yang umumnya jadi seragam wajib para abg kalo mo mejeng. Layaknya perempuan sunda, Imas kulitnya putih terang, wajahnya manislah, sayangnya agak chubby. Sebenarnya aku tidak terlalu senang dengan perempuan yang chubby, tapi karena tiap hari ketemu, lama2 jadi tertarik juga seperti kata pepatah jawa yen trisno jalaran soko gak ono liane (ha..ha, sudah dimodifikasi rupayanya pepatah jawa ini) yang artinya kira2 dengan terjemahan bebas karena sering ketemu lama2 jadi suka. Aku sering juga ngobrol sebentar dengan Imas kalo pas papasan didepan rumah.

Suatu waktu aku sedang membersihkan mobilku. Imas sedang nyapu halaman, sopirnya sudah mudik mo lebaran dikampungnya yang juga didaerah banten, satu kampung dengan Imas. "Kamu gak pulang Mas", aku membuka pembicaraan sembari mengelap mobilku. Tembok pembatas antara rumahku dan rumahnya gak tinggi sehingga kita masih bisa saling liat. "Enggak om". Memang dia biasanya memanggil aku om kalo ketemu. "Napa", tanyaku. "Ibu mau liburan ke bali sama sodara2nya, jadi Imas gak dikasi pulang. Disuru nungguin rumah". "Gak takut kamu sendirian di rumah. Kalo lebaran kan biasanya komplex kita ini sepi banget". "Takut sih om, om ndiri gak liburan". "Aku mah dirumah saja, nemenin kamu deh biar gak takut", godaku sambil tersenyum. "Om sih tinggal sendiri, gak punya istri ya om atau.... dah cere". "Aku dah cere Mas, istriku tinggal di Cirebon sama ortunya. Kami memang belon punya anak". "Maaas", terdengar panggilan dari dalem rumahnya, rupanya si ibu manggil. "Bentar ya Om', kata Imas sambil meninggalkan aku, masuk kerumahnya. Tak lama kemudian Imas keluar lagi, nemenin aku ngobrol. "Napa mas", tanyaku. "Ibu nyuruh Imas cari taksi, dia dah mo brangkat ke rumah sodaranya. Rencananya besok mereka berangkat ke bali. Imas tinggal dulu ya om". Imas keluar rumah, jalan mencari taksi keluar komplex. Aku memandangi Imas dari beralakng. Pantatnya yang besar bergerak sensual sekali mengikuti ayunan langkahnya. Imas sehari2 selalu mengenakan celana gombrang 3/4 dan kaos yang longgar. Walaupun celananya gombrang, pantatnya yang bahenol itu menarik untuk diperhatikan. Mendadak Imas nengok kearahku dan dia tersenyum. Aku jadi tersipu2 karena ketahuan lagi memandangi dia dari belakang, terpesona melihat geolan pantatnya. Aku dah selesai membersihkan mobilku, aku memang tinggal sendiri, pembantuku yang part time (hanya datang untuk membersihkan rumah, nyuci dan setrika saja, sudah lama mudik duluan. Tak lama terdengar ibu sedang bicara dengan Imas, aku hanya melongok dari jendela, kulihat Imas sedang memasukkan koper si ibu ke bagasi taksi dan tak lama kemudian taksi melaju meninggalkan Imas sendiri. Segera aku keluar rumah. "Dah brangkat ya Mas". "Dah om. Tadi om ngeliatin Imas aja, napa sih". Berani juga Imas mengajak aku membicarakan kelakuanku. "Abis pantat kamu bahenol banget Mas, godaku. "Ih si om mulai genit deh, mentang2 ibu dah berangkat. Kalo ada ibu om gak brani yaa", dia bales menggangguku. "Imas mo ditemeni gak?" aku to the point aja nawarin. "Iya om, sbenarnya Imas takut sendirian kalo malem". "Ya udah, nanti malem Imas tidur dirumahku aja, ada kamar kosong kok. Atau mo sekamar sama aku?" godaku lebih lanjut. "Ih si om makin genit aja", kulihat Imas tersipu2 mendengar gurauanku yang makin menjurus. "Kalo mau, aku gak tersinggung lo". "Tersinggung apanya om". "Tersinggung itunya". "Ya udah, ntar abis magrib deh ya om, Imas mo beberes dulu". Aku bersorak dalam hati ketika Imas mengiyakan tawaranku. Aku dah lama memendam napsuku melihat bodi Imas. Biar chubby Imas merangsang juga. Toketnya lumayan gede, bulu tangan dan kakinya panjang2, lagian diatas bibir mungilnya ada kumis yang sangat tipis. Pastilah jembutnya lebat dan napsunya gede.

Sorenya, bakda magrib, terdengar Imas memanggil2, "Om, om". Aku segera keluar rumah. Kulihat sepi sekali sekitar rumah kami. Imas tampak cerah dengan "seragam rumahnya". Rambutnya yang sebahu cuma diikat dengan karet saja. Satpam komplex belum beredar. "Dah dikunciin semuanya Mas, lampu luar dinyalain. Lampu dalem nyalain juga satu yang watnya kecil, biar gak disangka rumah kosong. Gas buat kompor dan water heater dah dimatiin?" "Dah kok om, Imas ke tempat om sekarang ya". "La iyalah, masak mo besok ketempat akunya". Imas segera menggembok pager rumahnya dan masuk ke rumahku.
"Om, punya makanan mentah gak, kalo ada Imas masakin", katanya sambil ngeloyor ke dapur. Karena rumah dikomplexku dibangunnya seragam, maka pembagian ruangnya sama, gak heran Imas tau dimana letak dapur. Aku mengeluarkan sayuran dan daging dari lemari es, dan memberikan ke Imas. Segera Imas sibuk menyiapkan masakan buat aku. Aku segera mandi dan ketika sudah selesai mandi makanan dah tersedia di meja makan. Nasi sisa tadi siang pun sudah diangetin. "Yuk Mas, kita makan bareng", ajakku. "Enggak ah, masak Imas makan semeja bareng om". "Ya gak apa kan, kamu kan bukan pembantuku, malem ini kamu tamuku. Dah bagus tamu ngebantuin nyiapin makan malem", aku menarik tangannya dan mendudukkan dikursi disebelah kursiku. Karena Imas hanya menyediakan 1 piring dan sendok garpu serta segelas air minum, aku segera ke dapur untuk mengambil peralatan makan buat Imas. "Gak usah om, biar Imas ambil sendiri", Imas bergerak bangun dari kursinya. "Gak apa, gantian. Kamu dah masakin buat kau, aku cuma ngambilin peralatan makan aja kok buat kamu". Suasana segera menjadi cair, kamu ngobrol ngalor ngidul sembari makan. Imas menceritakan latar belakangnya. Dia sebenarnya janda, masih muda sekali dia dikawinkan dengan seorang kakek2 didesanya, baru umur 15, sekarang Imas umur 19. Alesannya klasik. Bapaknya Imas utang ama si kakek dan gak bisa ngelunasin, maka Imas di"gade"in sebagai pelunas utang bapaknya, kayak crita sinetron aja yach. Perkawinan cuma tahan setahun, terus Imas dicerein, karena gak ada kerjaan di kampung Imas merantau ke Jakarta dan mencari kerja sebagai prt, dan tentunya ktemu aku (ha ha).

"Trus suami kamu keenakan dong mrawanin abg bahenol kaya kamu". "Ah Imas mah cuma menunaikan tugas sebagai istri aja. Cepet banget om, baru masuk, goyang sbentar dah keluar. Imas mah gak pernah tuh ngerasain nikmat seperti yang orang2 suka bilang kalo kawin itu nikmat" "Kasian deh kamu, kalo aku yang ngasih nikmat mau gak", omonganku makin menjurus saja. "Om makin lama makin genit ih, ntar Imas balik ke rumah lo kalo digenitin terus", katanya sambil senyum manja. "Oh gak mau cuma digenitin toh, abisnya Imas maunya diapain". "Gak tau ah", katanya sambil cemberut tapi tersenyum (Hayo, gimana tuh ekspresi orang yang cemberut campur tersenyum, bingung kan. Ines aja bingung kok). "Kamu setahun kawin kok gak hamil Mas, dicegah ya". "Iya om, suami Imas gak mo punya anak lagi. Anaknya dari istrinya yang laen dah banyak katanya". "Terus kamu gak pernah kepingin ngerasain nikmatnya Mas". "Kepingin sih om, tapi kan gak ada lawannya". "Sekarang ada kan". "Siapa om". "Aku". "Ih si om, Imas mo pulang aja ah", kembali dia cemberut, tapi aku tau kalo dia sebenarnya senang dengan gangguanku karena dia tetap saja tidak beranjak dari kursinya. Makan malam selesai. Berdua kami membereskan meja makan, Imas nyuci prabotan makan, sementara aku menyiapkan film bokep untuk memancing Imas ke arah yang lebih asik. Pintu rumah dah kututup, gorden jendela dah kuturunkan juga. Suasana di ruang tamu kubuat temaram dengan hanya menghidupkan lampu kecil saja. Suasanya berubah jadi rada romantis. Aku duduk di sofa, Imas menghampiri aku dan duduk diubin. "Jangan diubin atuh Mas, sini duduk disebelah aku. Inget kamu bukan pembantu aku lo". Imas segera duduk disebelahku, walaupun berjauhan. "Kok lampunya digelapin sih om". "Kan kita mo nonton film, kamu pernah nonton bioskop gak". "Pernah sih om, waktu abis kawin Imas diajak suami nonton bioskop". "Di kampung kamu ada bioskop juga". "Iya om bioskop murahan". "Kalo mo maen filmnya lampu di bioskop digelapin kan". "Iya om, emangnya kita mo nonton film apaan sih, seru gak om filmnya". "Ya pasti serulah, mungkin kamu belum pernah nonton film seperti yang mo aku putar". "Film apaan sih om", Imas sepertinya jadi penasaran. "Dah nonton aja", aku memutar filmnya. Gak seperti lazimnya film bokep, film yang kuputar ada critanya. Jadi pendahuluannya dipertunjukkan sepasang manusia beda warna kulit, yang ceweknya orang Asia, sepertinya orang thai, dan cowoknya negro. Adegan awal enceritakan bagaimana mereka ketemu, jalan bersama dan akhirnya pacaran. Settingnya berubah ke rumah si negro, mereka ciuman di sofa sambil mulai saling meraba dan meremas. "Ih kok gak malu ya om, gituan ditunjukkan ke orang2". Kulihat Imas menatap seru ke layar tv, dia mulai hanyut dengan adegan saling cium dan remas. Ceweknya dah tinggal pake bra dan cd, begitu juga cowoknya. kon tol si negro yang dah ngaceng nongol dibagian atas cdnya.
"Ih, gede banget yak. Punya suami Imas gak sege itu". Imas terus menatap kelayar tv sehingga dia gak sadar kalo aku pelan2 menggeser dudukku merapat kerahnya. Satu tanganku kulingkarkan ke bahunya, walaupun masih diatas pinggiran sofa. Waktu cowoknya mulai memasukkan kon tolku ke no nok si cewek, mulailah terdengar serenade wajib film bokep, ah dan uh. Imas kelihatannya makin larut dalam adegan yang diliatnya. "Pernah nonton film ginian Mas". "Belum pernah om". Aku mulai aksiku. Tanganku meraba2 tengkuknya. "Om geli ah", Imas merinding. Aku meneruskan aksiku. Dudukku makin merapat, Imas kupeluk dan kucium pipinya. "Om, ah", tapi matanya tetep aja lekat ke tv melahap adegan doggie sambil ah uh. Aku mengelus2 pundaknya dengan tangan satunya, pipinya kusentuh dan kucium lagi. Sekarang Imas diam saja. Jariku makin kebawah saja, mengelus pipi, terus ke leher. Imas menggeliat kegelian tapi tetep diam saja. Sepertinya dia sudah hanyut karena ngeliat tontonan syur itu. Pelan2 kusentuh toketnya, terasa besar dan kenyal. Karena Imas diam saja, aku makin berani, kuremas pelan toketnya sambil kembali mencium telinganya. Imas mendesah pelan tapi membiarkan elusan di toketnya berubah menjadi remasan. "Ooom", lenguhnya lagi menikmati remasanku di toketnya.
Aku mematikan film dengan remote, segera Imas kurengkuh dalam pelukanku dan kucium bibirnya.
Dengan penuh napsu kuremas2 toket Imas. Imas menggeliat2 saja, sepertinya napsunya makin berkobar.
Remasanku di toketnya berpindah2 dari satu toket ke toket yang lain. "Mas, aku buka ya kaos kamu biar bisa ngeremes langsung. Rasanya beda deh Mas kalo diremes langsung. Suami kamu juga kaya gini". "Enggak om, suami Imas dulu mah langsung masuk aja gak pake pendahuluan... eegh". Kaosnya langsung kubuka keatas. Imas menaikkan tangannya keatas sehingga mempermudah aku melepas kaosnya. Toketnya yang besar kenceng sepertinga gak tertampung di branya. Kembali aku mencium bibirnya, sembari tanganku meraba kepunggungnya untuk melepas kaitan branya, dan berhasil. Bra segera kusingkirkan dari tempatnya. Toket Inas yang bundar dan kencang dihiasi pentil yang kecil kecoklatan. Aku segera melanjutkan ciumanku dibibir mungil Imas, lidah kujulurkan masuk ke mulut Imas. Rupanya dia mengerti mesti ngapain dengan lidahku. Dia menghisap2 lidahku dan menyentuhkan lidahnya. Lidah kami pun saling bebelit, sementara pentilnya kuplintir2 pelan sehingga pelan2 mengeras. Imas melenguh terus, ketika aku mulai menggosok selangkangannya dari luar celana gombrangnya. "Ooom", lenguhnya. Selangkangannya terus kogosok lembut sambil tangan satunya memlintir2 pentilnya, kadang meremes2 toketnya. Imas dah pasrah saja dengan apa yang aku lakukan terhadap tubuh bahenolnya. "Mas, aku lepasin ya celana kamu", gak nunggu persetujuannya, aku membuka retsleting celana Imas dan memlorotkannya. Imas mengangkat pantatnya untuk mempermudah aku melepas celana gombrangnya. Tinggallah Imas pake cd yang tipis. Benar dugaanku, jembutnya lebat sekali, sampe beberapa helai nongol pada lingkar pahanya. Kuelus2 terus belahan no noknya daru luar cdnya. Cd nya dah basah, rupanya Imas dah sangat bernapsu jadinya. "Mas, jembut kamu lebat skale, pasti napsu kamu besar yach". Imas hanya menggeliat2 saja, dan melenguh2 keenakan menikmati aktivitas tanganku pada dada dan selangkangannya. "Mas, kamu dah napsu ya, cd kamu dah basah begini. Aku lepas ya". Aku segera menarik cdnya ke bawah. Sekali lagi Imas mengangkat pantatnya sehingg meluncurlah cdnya meninggalkan tubuhnya. Sekarang Imas sudah bertelanjang bulat didepanku. Tubuhnya yang putih dengan toket besar dan masih kencang sekali, pentil kecil yang dah mengeras dan sekumpulan jembut lebat berbentuk segitiga yang puncaknya mengarah ke no noknya. "Mas, terusin dikamarku yuk", aku menggandeng tangannya dan menariknya ke kamarku.

Imas kubaringkan di ranjang dan segera aku melepaskan semua yang melekat dibadanku. "Om, gede banget kon tolnya, kaya yang di film tadi". Imas membelalak melihat kon tolku yang sudah ngaceng dengan kerasnya. Memang kon tolku ukurannya extra large buat standard Indonesia, tapi itu yang membuat perempuan yang pernah aku en tot terkapar lemes dan nikmat. Kami berdua telah bertelanjang bulat. Aku segera berbaring disebelah Imas. Pentilnya kupilin membuat Imas mengerang kenikmatan. Kemudian paha Imas kukangkangkan, jembutnya yang lebat menutupi daerah no noknya. Aku telungkup di selangkangannya dan mulai menjilati no noknya. Imas makin mengerang2. Serangan kulakukan bergantian disemua titik sensitif di tubuh Imas. Bergantian dengan bibir bawahnya, aku juga melumat bibir atasnya sambil meremas2 toketnya yang juga mulai mengeras itu. Kemudian aku kembali kebawah menjilati pahanya sambil kedua tanganku masing-masing bergerilya pada toket dan no nok Imas. "Aduh om, nikmat banget. ahh!" kata Imas. Jilatanku mulai merambat naik hingga akhirnya kulumat dan kuremas toket Imas secara bergantian, sementara tanganku masih saja mengobok-obok no noknya. Desahan Imas tertahan karena sedang berciuman denganku. Tubuhnya menggeliat-geliat merasakan nikmat. Puas menetek pada Imas, aku bersiap memasuki no nok Imas dengan kon tolku. Aku memposisikan diriku diantara kedua belah paha Imas dan memegang kon tolku kearah no noknya. "Aagh", erang Imas ketika aku mendorong kon tolku dengan bernafsu. "Napa Mas, nikmat?" kataku sambil meremasi kedua toketnya yang sudah basah dan merah akibat kusedot2. "Gede banget om, no nok Imas ampe sesek rasanya".
"Tapi nikmat kan". "Nikmat banget om, Imas blon pernah ngerasain ngen tot senikmat ini". Aku menyodokkan kon tolku dengan keras sehingga Imas pun tidak bisa menahan jeritannya. Aku mulai menggarap Imas dengan genjotanku. Dengan terus menyodoki Imas, aku meraih toketnya yang kiri, mula-mula kubelai dengan lembut tapi lama-lama aku semakin keras mencengkramnya. Aku juga mencaplok toket yang satunya. Imas yang mengerti apa mauku, segera membusungkan dadanya ke depan sehingga toketnya pun makin membusung. Aku menjulurkan lidahku untuk menjilati pentilnya sehingga makin mengeras saja. Imas merasa geli bercampur nikmat. Dia mendesah tak karuan merasakan kenikmatan yang belum pernah dirasakannya. Ciumanku merambat naik dari toketnya hingga hinggap di bibirnya, kami berciuman dengan penuh nafsu sampai ludah kami bercampur baur. "Aahh.. oohh.. Imas mau pipis rasanya.. om!" erang Imas bersamaan dengan tubuhnya mengejang. Melihat reaksi Imas, aku semakin memperdahsyat sodokanku dan semakin ganas meremas toketnya. Akhirnya Imas nyampe, tubuhnya mengejang hebat dan cairan no noknya berleleran dipahanya. Erangannya memenuhi kamar ini membuat aku semakin liar. "Itu bukan pipis Mas, itu tandanya kamu mo nyampe, nikmat kan". "Banget om.. aaah".

"Mas ganti posisi yuk, kamu sekarang nungging deh", kataku sambil mencabut kon tolku dari no noknya.
kon tolku berlumuran cairan lendir Imas yang menyembur dahsyat ketika dia nyampe. "Mo dimasukin ke pantat ya om, gak mau ah". "Ngapain dipantat Mas, no nok kamu peret banget, enak banget dien totnya'. "Abis kon tol om gede banget sih, no nok Imas pan belum pernah kemasukan kon tol segede kon tol om, makanya kerasa peret banget". Imas pun nungging dipinggir ranjang dan aku berdiri dibelakangnya. Tubuhnya yang dalam posisi tengkurap kuangkat pada bagian pinggul sehingga lebih menungging. Aku membuka lebar bibir no noknya dan menyentuhkan kepala kon tolku disitu. Benda itu pelan-pelan mendesak masuk ke no noknya. "Heghh..heghmm...", lenguhnya saat kon tolku masuk. Imas mendesis dan mulai menggelinjang. Kepala kon tolku perlahan-lahan mulai menguak bibir no noknya yang sangat basah. Aku menekan kon tolku sedikit demi sedikit. Imas mulai mendesah-desah. Tiba2 aku menyurukkan kon tolku ke dalam no noknya. "Aaa..", jeritnya keras. Matanya membelalak. kon tolku menancap dalam sekali di no noknya. Kemudian aku mulai menggerak-gerakkan kon tolku keluar masuk. "Lebih keras lagi om", erangnya. Aku memompa kon tolku keluar masuk semakin bersemangat. Keringat mengucur dari seluruh tubuhku, bercampur dengan keringatnya. " Om, Imas mau pipis lagi", kataku terputus-putus. "Aku juga", sahutku. Aku meningkatkan kecepatan genjotan kon tolku . Imas menjerit-jerit semakin keras, dan merangkul aku erat-erat. Dia sudah nyampe. Akhirnya dengan satu hentakan keras aku membenamkan kon tolku dalam-dalam. Imas menjerit keras. Pejuku muncrat di dalam no noknya 5 atau 6 kali. "Gila Mas, no nok kamu enak banget, sempit banget". katanya. "kon tol om juga keras banget, enak..." jawabnya. aku ambruk kecapaian. "Istirahat dulu ya Mas". "Emangnya om masih mo lagi". "So pasti dong mas, enak begini mah gak bole disia2kan. Kamu nikmat juga kan, masih mau lagi juga kan". "Iya om, nikmat banget". "Iya nikmat apa iya mau lagi". "Dua2nya om". kon tolku yang melemas terlepas dari jepitan no nok peretnya. Aku segera mengambil minum untuk Imas dan aku sendiri. Imas seneng dengan layanan yang aku berikan, mungkin dia belum pernah seumur2 diambilkan minum. "Om, Imas suka deh ama om, om memperlakukan Imas seperti istri om". Aku terharu juga mendengar ucapannya.

Gairahku masih tinggi. Setelah aku merasa Imas cukup istirahatnya, aku segera memulai ronde kedua, pemanasan lagi, biar Imas napsu banget. Akupun berbaring disebelahnya, Imas menyambut aku dengan pelukannya. Aku mengelusi punggungnya, terus turun hingga meremas bongkahan pantatnya. Sementara tangan Imas juga turun meraih kon tolku. "Gila nih kon tol, udah keras lagi..kan baru ngecret om?" tanyanya waktu menggenggam kon tolku yang mulai mengeras. Akupun mulai menciumi telinganya, lidahku menelusuri belakang telinganya, juga bermain-main di lubangnya. Dengusan nafas dan lidahku membuat Imas merasa geli dan menggeliat-geliat. Kemudian aku melumat bibirnya dengan ganas, lidahku menyapu langit-langit mulutnya. Imas merespon dengan mengulum lidahku. Makin ahli dia berciuman, siapa dulu gurunya dong (ha ha). Tanganku meraba-raba kebawah ke no noknya yang sudah basah lagi, karena napsunya ternyata telah demikian tingginya. Aku tak sabar untuk segera ngen toti Imas lagi. Segera Imas kunaiki. Pahanya kukangkangkan. Ketika kuraih kon tolku kutuntun kearah no noknya, tangan kanan Imas ikut menuntun kon tolku menuju sasaran. Saat kepala kon tolku menyentuh bibir no noknya, aku menekannya ke dalam, mulutnya menggumam tertahan karena sedang berciuman denganku. Lalu kutekan lagi dengan keras sehingga kon tolku menerobos ke dalam dan terbenam sepenuhnya dalam no noknya. Imas menghentak-hentakkan pantatnya ke atas agar kon tolku masuk lebih dalam lagi. Imas terdiam sejenak merasakan sensasi yang luar biasa ini. Lalu perlahan-lahan aku mulai mengenjotkan kon tolku. Imas memutar2 pantatnya untuk memperbesar rasa nikmat. Toketnya tergoncang-goncang seirama dengan genjotanku di no noknya. Matanya terpejam dan bibirku terbuka, berdesis-desis menahankan rasa nikmat. Desisan itu berubah menjadi erangan dan kemudian akhirnya menjadi jeritan. Imas tak kuasa menahan rintihannya setiap aku menusukkan kon tolku, tubuhnya bergetar hebat akibat tarikan dan dorongan kon tolku pada no noknya. Pinggul Imas naik turun berkali kali mengikuti gerakanku. Jeritannya makin menjadi-jadi. Aku membungkam jeritannya dengan mulutku. Lidahku bertemu lidahnya. Sementara di bawah sana kon tolku leluasa bertarung dengan no noknya. "Oh..", erangnya, "Lebih keras om, lebih keras lagi.. Lebih keras.. Oooaah!" Tangannya melingkar merangkul aku ketat. Kuku-kukunya terasa mencakari punggungku. Pahanya semakin lebar mengangkang. Terdengar bunyi kecipak lendir no noknya seirama dengan enjotan kon tolku. "Aku mau ngecret, Mas", bisikku di sela-sela nafasku memburu. "Imas juga om", sahutnya. Aku mempercepat enjotan kon tolku.
Keringatku mengalir dan menyatu dengan keringatnya. Bibir kutekan ke bibirnya. Kedua tanganku mencengkam kedua toketnya. Diiringi geraman keras aku menghentakkan pantatku dan kon tolku terbenam sedalam-dalamnya. Pejuku kembali memancar deras. Imas pun melolong panjang dan menghentakkan pantatnya ke atas menerima kon tolku sedalam-dalamnya. Kedua pahanya naik dan membelit pantatku. Imas pun mencapai puncaknya. kon tolku terasa berdenyut-denyut memuntahkan pejuku ke dalam no noknya. Beberapa detik kemudian badanku terkulai lemas, begitu juga Imas. Dia terkapar di ranjang, kedua toketnya nampak bergerak naik turun seiring desah nafasnya.

Kami terkapar dan tertidur kelelahan, gak tau berapa lama. Tapi kemudian aku terbangun karena merasa ada remasan di kon tolku. Kulihat Imas sedang menelungkup dikakiku. kon tolku dielus dan diermas2nya. "Om, Imas kok pengen lagi ya". Bener kan, perempuan dengan jembut yang lebat napsunya gede banget, pengennya dien tot berulang2, padahal dia tadi sampe teler aku en tot. Dia merundukkan badan untuk memasukkan kon tolku ke mulutnya, benda itu dikulumnya dengan rakus. Aku segera memutar badanku sehingga kami berada pada posisi 69. Aku mempergencar rangsangan dengan menciumi kakinya mulai dari betis, tumit, hingga jari-jari kakinya. Imas jadi makin gila dengan perlakuan seperti itu. "Ahh.. om, kok mau sih nyiumin kaki Imas". "Gak papa Mas, kamu isep terus dong kon tolku". Jilatanku kemudian pindah kepahanya. Imas otomatis mengangkangkan pahanya sehingga aku bisa mengakses daerah no noknya dengan mudah. "Om enak banget.. masukin aja sekarang!" rintihnya manja sambil mengocok2 kon tolku yang sudah sangat keras itu, kemudian diemutnya kembali. Akhirnya aku menyudahi serangan awal. Imas kunaiki dan aku menggesekkan kon tolku ke bibir no noknya. Kemudian kudorong kon tolku membelah no nok Imas diiringi desahan nikmat. Aku meremas toket kirinya dan memlintir2 pentilnya. Imas yang juga sudah napsu tambah menggelinjang ketika aku mempercepat kocokanku pada no noknya. Seranganku pada no nok Imas semakin cepat sehingga tubuhnya menggelinjang hebat. "Aaakhh..aahh!" jerit Imas dengan melengkungkan tubuhnya ke atas. Imas telah nyampe.

Tanpa memberi kesempatan istirahat, aku menaikkan Imas ke pangkuanku dengan posisi membelakangi. Kembali no nok Imas kukocok dengan kon tolku. Walaupun masih lemas dia mulai menggoyangkan pantatnya mengikuti kocokan kon tolku. Aku yang merasa keenakan hanya bisa mengerang sambil meremas pantat Imas, menikmati pijatan no noknya.

Bosan dengan gaya berpangkuan, aku berbaring telentang dan membiarkan Imas bergoyang di atas kon tolku. Dengan tetap berciuman aku mengenjotkan kon tolku ke no noknya, kon tolku yang sudah sangat keras tanpa halangan langsung menerobos no noknya, bersarang sedalam-dalamnya. Terasa nikmat sekali. Kedua toketnya kuremas2 dengan penuh napsu. Aku mengenjotkan kon tolku dari bawah dengan cepat, ini membuat Imas mengerang keras dan sepertinya sudah mau nyampe lagi. Baru sebentar goyang dia sudah mau nyampe saking nikmatnya. Imas menjadi semakin liar dalam menggoyang pantatnya. Dia sudah makin terangsang sehingga akhirnya badannya mengejang-ngejang diiringi erangan kenikmatan. "Auu.. om!" jeritnya. Untuk beberapa saat kami terdiam. Ia memelukku erat-erat. "Mas, aku belum ngecret kok kamu udah nyampe", katanya. "Habis, nikmat banget sih rasanya kon tol om nyodok2 no nok Imas", jawabnya terengah. "Kita terusin ya", Imas hanya mengangguk lemas.

Aku menyuruh Imas nungging dan membuka pahanya lebar2. Aku mendekat dari belakang. Aku menyapu lembut pantatnya yang mulus padat. Imas menggigit bibirnya dan menahan napas, tak sabar menanti masuknya kon tolku yang masih keras. Aku mengarahkan kon tolku ke no noknya. Perlahan-lahan kepala kon tolku yang melebar dan berwarna merah mengkilap itu menerobos no noknya. Imas mendongak dan mendesis kenikmatan. Sejenak aku berhenti dan membiarkan dia menikmatinya, lalu mendadak aku menghentakkan pantatku keras ke depan. Sehingga terbenamlah seluruh kon tolku di no noknya. "Aacchh..!!", Imas mengerang keras. Rambutnya kujambak sehingga wajahnya mendongak keatas. Sambil terus menggenjot no noknya, tanganku meremas2 kedua toketnya yang berguncang2 karena enjotanku yang keras, seirama dengan keluar masuknya kon tolku di no noknya. Terdengar bunyi kecipak cairan no noknya, Imas pun terus mendesah dan melenguh. Mendengar itu semua, aku semakin bernafsu. Enjotan kon tol kupercepat, sehingga erangan dan lenguhannya makin menjadi2. "Oohh..! Lebih keras om. Ayo, cepat. Cepat. Lebih keras lagii!" Keringatku deras menetesi punggungnya. Wajahku pun telah basah oleh keringat. Rambutnya semakin keras kusentak. Kepalanya semakin mendongak. Dan akhirnya dengan satu sentakan keras, aku membenamkan kon tolku sedalam-dalamnya. Imas menjerit karena kembali nyampe. Aku terus meremas2 toketnya dengan penuh nafsu dan makin keras juga menghentakkan kon tolku keluar masuk no noknya sampai akhirnya pejuku menyemprot dengan derasnya di dalam no noknya. Rasanya tak ada habis-habisnya. Dengan lemas aku menelungkup di atas punggungnya.

Besok paginya aku terbangun ketika jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh pagi dan aku hanya
mendapati Imas yang masih terlelap di sebelah kiriku. Kuguncang tubuh Imas untuk membangunkannya.
"Gimana , puas semalem?" tanyaku. "Gila Imas om en totin sampe kelenger, kuat banget sih om". "Imas suka kan aku en tot, kapan2 kalo ada kesempatan mau enggak ngen tot lagi ama aku?" "Mau banget om, tapi jangan sampe ibu tau ya om. Imas belon pernah bangun jam 10 gini, enak ya om gak usah ngerjain tugas rumah tangga. Om gak laper, ntar Imas siapin". "Katanya gak mo ngerjain kerjaan rumah tangga. Kita pelukan di ranjang lagi. Masih mau lagi gak?" "Kalo om bisa napa enggak, Imas nikmat kok dien tot om, mau deh terus2an dien totnya, biar lemes juga". Aku memeluk dan mencium bibirnya, tanganku aktif menelusuri tubuhnya. Ketika tanganku sampai ke bawah, kubelai bibir no noknya sekaligus mempermainkan it ilnya. "Uuhh.. om", Imas menjerit kecil dan mempererat pelukannya padaku. Imas mendekatkan wajahnya padaku dan mencium bibirku, selama beberapa menit bibir kami berpagutan. Imas amat menikmati belaian pada daerah sensitifnya. Dengan tangan kanan aku memainkan toketnya, pentilnya kupencet dan kupilin hingga makin menegang, tangan kiriku meraba-raba no nokku. Imas menikmati jari-jariku bermain di no noknya sambil merintih2 keenakan. "Maen lagi yuk Mas". "Ayuk om, Imas dah pengen dien tot lagi". Luar biasa ni perempuan, gak ada matinya. Napsunya besar banget, padahal semalem dah aku en tot sampe dia lemes banget, masih aja mau lagi. Aku meremes2 toket kirinya sambil sesekali memelintir pentilnya. Lalu aku membungkuk dan mengarahkan kepalaku ke toket kanannya yang langsung kukenyot. Imas memejamkan mata menghayati suasana itu dan mengeluarkan desahan. "Mo pake gaya apa Mas". "Imas paling nikmat kalo dien tot dari belakang om". Langsung aku menyuruhnya menungging, kuarahkan kon tolku ke arah no noknya. Jembutnya yang hitam lebat itu kusibak sehingga tampaklah bibir no noknya yang berwarna merah muda dan basah berlendir. Kuselipkan kepala kon tolku di antara bibir no noknya. Imas mendesah. Kemudian perlahan tapi pasti aku mendorong kon tolku ke depan. kon tolku menerobos no noknya. Imas menjerit kecil sambil mendongakkan kepalanya keatas. Sejenak aku berhenti dan membiarkan dia menikmatinya. Ketika Imas tengah mengerang-erang dan menggelinjang-gelinjang, mendadak aku menyodokkan kon tolku ke depan dengan cepat dan keras sehingga kon tolku meluncur ke dalam no noknya. Imas tersentak dan menjerit keras. "Aduh om, enak!" Aku mempercepat enjotan kon tolku di no noknya. Semakin keras dan cepat enjotanku, semakin keras erangan dan jeritannya. "Aa..h.!" jeritnya nyampe. Kemudian Imas kutelentangkan diranjang. Aku menaiki tubuhnya, pahaku menempel erat dipahanya yang mengangkang. Kepala kon tol kutempelkan ke it ilnya. Sambil menciumi leher, pundak dan belakang telinganya, kepala kon tolku bergerak-gerak mengelilingi bibir no noknya yang sudah basah. Imas merem melek menikmati kon tolku di bibir no noknya, akhirnya kuselipkan kon tolku dino noknya. "Aah"' jeritnya keenakan. Imas merasa kenikmatan yang luar biasa dan sedikit demi sedikit kumasukkan kon tolku. Imas menggoyangkan pantatnya sehingga kon tolku hampir seluruhnya masuk. "Om, enjot dong kon tolnya, rasanya nikmat sekali". Perlahan aku mulai mengenjot kon tolku keluar masuk no noknya. Pahanya di kangkangin lebar-lebar, hingga akhirnya kakinya melingkar di pantatku supaya kon tolku masuk sedalam-dalam ke no noknya. Imas berteriak-teriak dan merapatkan jepitan kakinya di pantatku. Aku membenamkan kon tolku seluruhnya di dalam no noknya. "Om, Imas nyampe lagi.. Ahh.. Ahh.. Ahh,"
jeritnya. Beberapa saat kemudian, dia membuka sedikit jepitan kakinya dipantatku, paha dibukanya lebar2 dan akhirnya dengan cepat kuenjot kon tolku keluar masuk no noknya. Nikmat sekali rasanya. Setelah delapan sampai sembilan enjotan kon tolku di no noknya, akhirnya croot..croot.. croot.. croot.."Mas, aku ngecret", erangnya. Pejuku muncrat banyak sekali memenuhi no noknya. Setelah mandi kami baru menyiapkan makan pagi dan menyantapnya bersama. "Mesra banget ya om, kaya penganten baru aja". Sungguh nikmat tinggal bersama Imas selama majikannya berlibur ke bali. Gak keitung berapa kali aku mereguk kenikmatan bersama Imas. Demikian juga Imas yang sepertinya ketagihan kon tolku ngenjot no noknya